<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369</id><updated>2012-01-20T23:47:35.282-08:00</updated><category term='tasik'/><category term='kuliner'/><category term='buku'/><category term='fantastik'/><category term='Kuliner Tasik'/><category term='Article on The Jakarta Post'/><category term='Peta Wisata Kuliner'/><category term='Peta Kuliner'/><title type='text'>Maulana Yudiman's Archives</title><subtitle type='html'>"Our Lord! Grant unto us wives and offspring who will be the comfort of our eyes, and give us (the grace) to lead the righteous." The Holly Quran, 25 : 74</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-516559396307373199</id><published>2012-01-17T19:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T19:14:07.903-08:00</updated><title type='text'>Promosi Kota Lewat Kuliner</title><content type='html'>Selain dikenal sebagai kota pesantren, Tasikmalaya juga dikenal karena ragam dan tradisi kulinernya yang kuat. Beraneka ragam sajian kuliner tersedia lengkap di kota ini. Mie baso dan bubur ayam hanya sedikit contoh kuliner yang banyak digemari masyarakat. Tapi tak cuma dua jajanan ini, karena kota Tasikmalaya juga memiliki banyak hidangan lain ; tahu kupat, aneka olahan mie, soto, sate, rujak dan lotek serta sajian kuliner khas Nasi Tutug Oncom (TO). Bahkan nasi tutug oncom sering diklaim sebagai inovasi kuliner asli orang Tasik, sejajar dengan nasi jamblang khas Cirebon, nasi gudeg Yogya atau nasi uduk Betawi. Ini masih ditambah puluhan warung nasi/rumah makan yang dengan ciri khasnya masing-masing turut meramaikan khasanah kuliner kota penghasil batik dan bordir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beragamnya produk kuliner yang tersedia, dapat disimpulkan masyarakat kota Tasikmalaya terbuka dan apresiatif terhadap aneka jenis kuliner. Kondisi ini didukung oleh kesetiaan para pemilik usaha kuliner dalam menjaga kualitas rasa dan karya kuliner mereka, tidak berubah dan mampu bertahan sepanjang waktu. Salah satu bubur ayam terkenal di Tasik telah hadir sejak tahun 1961. Sedangkan salah satu penjaja soto di jalan Pataruman, kini dikelola generasi ketiga. Masih banyak lagi usaha kuliner yang telah diturunkan dan diteruskan oleh generasi penerus. Dengan demikian, kuliner kota Tasik juga merupakan salah satu warisan budaya kota yang harus dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliner adalah salah satu potensi andalan kota Tasikmalaya yang sejatinya dapat dikembangkan untuk mendukung  industri pariwisata. Terlebih dengan visi untuk menjadi kota perdagangan dan perindustrian termaju di kawasan Priangan Timur tahun 2012, wisata kuliner dapat menjadi jangkar/anchor untuk menunjang wisata belanja ke kawasan sentra batik, bordir, payung dan kelom geulis, yang secara “tradisional” telah menjadi potensi unggulan pariwisata kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era ketika arus informasi mengalir deras melalui internet, pemerintah kota seyogyanya sangat dimudahkan dalam menjadikan aktifitas wisata kuliner sebagai salah satu ujung tombak pengembangan pariwisata. Situs jejaring sosial dan sosial media seperti facebook dan twitter, misalnya terbukti cukup efektif dalam turut “mempromosikan” kekayaan kuliner kota Tasikmalaya. Sebuah komunitas penggemar wisata kuliner di Tasikmalaya kini telah beranggota hingga ribuan orang.  Lewat situs-situs tadi, para penggunanya secara sadar saling berbagi dan bertukar informasi, serta merekomendasi beberapa lokasi kuliner yang harus dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhananya, pemerintah kota, praktis tinggal mengambil langkah dalam merumuskan strategi promosi lain yang dinilai efektif untuk mendukung kuliner sebagai bagian dari upaya promosi kota.  Diantaranya, memasang papan reklame promosi kuliner khas kota Tasik di beberapa lokasi stategis di jalan-jalan utama menuju kota, dan melakukan aktifitas “jemput bola” dengan menyasar para calon wisatawan di kota-kota besar semisal Bandung dan Jakarta. Selain promosi yang kreatif, pemerintah kota, juga harus fokus dalam pemberdayaan para pengelola kuliner yang umumnya adalah UKM. Dengan begitu, kegiatan pengembangan kuliner sebagai bagian dari promosi pariwisata kota, juga selaras dan bersinergi dengan upaya pemberdayaan UKM, termasuk didalamnya bantuan untuk memperoleh sertifikat halal, dan promosi UKM kuliner yang menyajikan makanan sehat, higienis dan peduli lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengembangan Kluster/Sentra Kuliner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu upaya menjadikan kuliner bagian dari dari promosi pariwisata, rencana pemkot Tasik untuk membangun kluster/sentra kuliner di salah satu ruas jalan di kota Tasikmalaya, pada awal April mendatang patut disambut baik. Diharapkan, dengan adanya kluster/sentra kuliner ini, masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke kota Tasik dapat menikmati aneka sajian kuliner khas kota Tasik di satu lokasi. Hanya saja perlu diperhatikan agar upaya membangun kawasan kluster/sentra kuliner tidak semata-mata memindahkan pedagang kaki lima (PKL), ke kawasan tersebut. Pengembangan kawasan kuliner harus direncanakan secara matang dengan mempertimbangkan beragam aspek, agar tujuan pengembangan kawasan kuliner untuk mendukung promosi pariwisata bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek tersebut mencakup pembenahan kawasan dan penyediaan infrastruktur pendukung. Pemkot pertama-tama harus memastikan kawasan tersebut nyaman sebagai sebuah kawasan pedestrian. Dengan demikian, para pengunjung bebas menyusuri kawasan tersebut tanpa terganggu oleh lalu lalang kendaraan. Pemkot juga harus menyiapkan rambu-rambu penunjuk arah ke kawasan tersebut serta menata kawasan. Para penyedia dan pengelola usaha kuliner dibuatkan tenda semi permanen yang dilengkapi meja dan kursi, serta diberikan pemahaman tentang pentingnya aspek higienitas dan keamanan pangan, untuk menjamin kuliner yang disajikan aman dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kluster/sentra kuliner ini juga dapat ditambahkan beberapa sarana pendukung lain seperti toilet dan tempat cuci tangan untuk umum, jaringan hotspot agar saat berkuliner, para pengunjung juga berselancar di dunia maya. Pada waktu-waktu tertentu para pegiat seni dan musik yang ada di kota Tasik dapat unjuk kebolehan dengan tampil secara langsung, untuk menambah suasana menjadi semakin semarak. Pengembangan kluster/sentra kuliner juga dapat dilihat sebagai upaya pemkot dalam menyediakan ruang publik yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Di ruang publik ini, masyarakat dan para pemangku kepentingan kota lainnya bertemu untuk berinteraksi dan bertukar pikiran/gagasan dalam membangun kota Tasikmalaya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya Branding&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjang kegiatan promosi dan pemasaran kota, penting juga untuk mem-branding produk kuliner Tasik agar semakin dikenal. Branding untuk produk kuliner Tasik bisa mengambil contoh dari dari branding negara/kota Singapura, Uniquely Singapore, Amazing Thailand-nya Thailand, atau Incredible India-India. Di tingkat lokal, konsep branding Everlasting Beauty-nya Bandung dan Never Ending Asia-nya Jogja juga menarik untuk ditiru. Pemilihan tagline untuk produk kuliner Tasik, bisa menyesuaikan dengan keragaman, keunikan, dan kekhasan kuliner yang dimiliki kota. Pemilihan branding kuliner Tasik tentu harus memperhatikan kemudahan dalam pelafalan, dan ingatan, mencerminkan keunikan dan kreatifitas produk kuliner yang ada, serta menunjukan visi pengembangan kuliner Tasik  di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan branding dan aktifitas promosi yang tepat, diharapkan produk kuliner kota Tasik dapat menancap di benak konsumen/wisatawan yang berkunjung ke Tasikmalaya. Lewat cara ini,  para wisatawan yang puas  saat berkunjung dan menikmati anek sajian kuliner kota Tasik dapat menyebarluaskannya secara sadar melalui promosi gethok tular.  Dengan begitu, keragaman dan kekayaan kuliner kota Tasik dapat tersebar secara viral dan membuat wisatawan selalu ingin berkunjung ke Tasik. Tak hanya untuk belanja batik, bordir dan aneka kerajinan lain, juga menikmati wisata kulinernya yang fantastis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-516559396307373199?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/516559396307373199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=516559396307373199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/516559396307373199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/516559396307373199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2012/01/promosi-kota-lewat-kuliner.html' title='Promosi Kota Lewat Kuliner'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-6636541929740111687</id><published>2011-12-15T00:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T00:07:02.183-08:00</updated><title type='text'>Alun alunku Sayang Alun alunku Malang</title><content type='html'>&lt;p&gt;Alun-alun kota Tasikmalaya suatu sore. Saya duduk-duduk sembari  menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Semilir angin, dan  semburat lembayung menyelinap diantara kerimbunan pepohonan besar yang  sudah sejak lama tumbuh. Beberapa orang anak sekolah duduk-duduk di  sudut. Sementara sepasang suami istri, memilih berjalan santai diiringi  tawa riang sepasang putera-puteri mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di pelataran monumen, beberapa orang tua asyik ngobrol melepas penat  sesuai berolahraga ringan sore hari. Monumen alun-alun dihiasi patung  perunggu sepasang pemuda dan pemudi mengibarkan pataka Parasamya Purna  Karya Nugraha, sebuah penghargaan atas pencapaian keberhasilan  pembangunan di era orde baru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Monumen juga menyimpan berbagai prestasi yang dicapai kota  Tasikmalaya dalam bentuk diorama. Prestasi pembangunan di bidang  pertanian, pendidikan, kesehatan dan banyak lagi. Bangunan monumen  terbuat dari susunan batu andesit berwarna abu kehitaman, yang meski  sudah dimakan usia, namun masih gagah dan nyaman dipandang mata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oya, alun-alun kota juga dilengkapi beberapa kursi taman yang pada  sore-sore seperti sekarang ini, banyak digunakan warga kota untuk tempat  mereka menghabiskan hari. Kursi-kursi ini ditempatkan sedemikian rupa,  di sela-sela lampu taman besar dengan dekorasi yang indah dan memberi  terang saat siang berganti malam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rumput alun-alun dan aneka tanaman penghias tertata rapi, menandakan  pengurusan yang teratur dan pengelolaan yang baik. Saya memanggil  seorang penjaja minuman dan memesan sebotol minuman dingin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ah, sebuah pengalaman menikmati senja yang tak terlupakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alun-alun kota Tasikmalaya sudah sejak lama ada. Sejauh ingatan saya,  memori tentang alun-alun sudah muncul dalam ingatan sejak saya  bersekolah di TK Pertiwi awal tahun 1980an. Lokasinya saat itu masih di  dekat kantor Sturada (Studio Radio Daerah). Persis, di samping gedung  pendopo Tasikmalaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat itu, tentu saya belum mengerti apa itu alun-alun. Maklum masih  bocah. Selain itu, kebanyakan ingatan tentang alun-alun hanya saya  peroleh dari foto-foto aktifitas yang menggambarkan alun-alun sebagai  latar. Namun menginjak kelas 5 -6 SD (sekitar tahun 1984 – 1985),  alun-alun memberi gambaran ingatan yang semakin jelas kepada saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap bulan puasa tiba, alun-alun menjadi lokasi favorit  menghabiskan waktu sepanjang asar hingga magrib. Ngabuburit, menunggu  datangnya waktu berbuka. Saat ngabuburit itu, saya menghabiskannya  dengan menyewakan komik dan buku-buku cerita yang menjadi koleksi saya.  Diantaranya, cergam Deni Manusia Ikan, beberapa judul komik Tintin,  cergam Trigan, Kisah Petualangan Arad dan Maya, beberapa edisi majalah  Bobo, dan sekian judul buku Petulangan Trio Detektif dan Lima Sekawan.  Tidak semua buku ini saya miliki, kadang-kadang saya berkongsi dengan  beberapa kawan agar koleksi lapak penyewaan komik saya lebih banyak dan  komplit dibanding pesaing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hasilnya? Namanya juga usaha. Kadang komik-komik saya laris disewa  pembeli, kadang-kadang hanya sedikit yang mampir karena mereka  sebelumnya sudah membaca dan melihatnya di tempat lain. Saat itu, biaya  sewa dan membaca di tempat, murah meriah saja ; Rp 25,-/komik. Sebagai  perbandingan, harga semangkuk baso masih Rp 300,- dan jika bisa membawa  pulang Rp 300,- saja maka hari itu saya akan membawa beragam ta’jil ke  rumah. Sejak cilok, gorengan, es orson, hingga kolek dan aneka penganan  lain. Maka lengkaplah di meja makan, penganan berbuka saya sore itu,  yang umumnya tidak pernah bisa saya habiskan karena keburu kekenyangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beranjak SMP dan SMA, saya sudah tidak lagi menyewakan komik di  alun-alun. Selain sudah tidak lagi menarik dari sisi bisnis, koleksi  komik saya juga semakin berkurang. Lagi, alun-alun juga sudah tidak lagi  menjadi &lt;em&gt;meeting point&lt;/em&gt; dan lokasi tujuan ngabuburit favorit.  Selain itu, karena bersekolah di SMPN 1 yang bertetangga dengan  alun-alun, kegiatan mata pelajaran olahraga sesekali berlangsung di  sana. Lagi pula, pergi dan pulang sekolah pasti memintas jalan lewat  alun-alun. Lambat laun, pudar sudah pesona alun-alun di mata saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya saja, saya masih tetap mau diajak kawan-kawan&lt;em&gt; sepor&lt;/em&gt; alias lari pagi ke alun-alun setiap minggu pagi.&lt;em&gt; Sepor&lt;/em&gt;-nya  sih bukan yang utama. Seringnya saat lari pagi itu, kita bertemu  teman-teman yang lain, dan lebih senang lagi jika ada teman perempuan  yang ikut bergabung juga. Seronok, kalau kata Ipin dan Upin. Ah,  indahnya masa remaja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selepas SMA, karena harus bersekolah di kota lain, saya pun  meninggalkan Tasikmalaya tercinta. Sementara saya pun harus melupakan  alun-alun kota. Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di Ibukota,  dan semakin terpisah dari kota Tasik dan alun-alunnya yang melegenda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beruntung, sore ini saya dapat menikmati senja di alun-alun kota  tercinta ini. Mengenang masa lalu, mengurai ingatan indah masa kecil,  menyesapi aroma rumputnya yang menghijau, keceriaan anak-anak yang  bermain-main, senda gurau orang-orang tua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba seseorang mencolek saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Ieu angsulna Pa&lt;/em&gt;,” (Ini uang kembaliannya, Pak), katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suara &lt;em&gt;mamang&lt;/em&gt; penjaja minuman menyadarkan saya. Saya tergagap  sebentar. Agak lama sebelum kesadaran saya kembali muncul. Saya terima  uang kembalian minuman botol sembari mengucapkan terimakasih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Alamaaak&lt;/em&gt;, saya ternyata sedang melamun. Alun-alun kota yang  indah tertata rapi, tempat anak-anak bermain, sarana olahraga  orang-orang tua di sore hari dan ruang publik favorit warga ini ternyata  cuma ilusi dan lamunan saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang nyata di hadapan, alun-alun kota yang tak terurus, rumputnya yang sudah jarang di sana-sini,&lt;em&gt; paving block&lt;/em&gt;  yang bolong-bolong dan bisa bikin celaka, lampu taman yang rusak, pagar  pembatas yang catnya sudah memudar. Beberapa waktu lalu, patung di  monumen bahkan sempat tak punya kepala. Syukurlah, sekarang ini kepala  patung sudah kembali utuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya menghela nafas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya pulang dengan lunglai.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-6636541929740111687?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/6636541929740111687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=6636541929740111687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/6636541929740111687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/6636541929740111687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2011/12/alun-alunku-sayang-alun-alunku-malang.html' title='Alun alunku Sayang Alun alunku Malang'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-4239993864024347142</id><published>2011-01-28T03:05:00.000-08:00</published><updated>2011-01-29T02:45:10.050-08:00</updated><title type='text'>Gambar dan Foto Kuliner Tasik-2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPvj08U1yI/AAAAAAAAAMc/hMc62lj5Pec/s1600/Abah%2BIi_30.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 262px; height: 319px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPvj08U1yI/AAAAAAAAAMc/hMc62lj5Pec/s400/Abah%2BIi_30.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567556963146192674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur Abah Ii (Alm) (Amanah skrg)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPtgb619iI/AAAAAAAAAMU/WHtpN7a6-_Q/s1600/biasamalam.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 265px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPtgb619iI/AAAAAAAAAMU/WHtpN7a6-_Q/s400/biasamalam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567554705866225186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur Biasa Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPsQDuDjCI/AAAAAAAAAMM/zSdesXp6nqQ/s1600/mie%2Bayam%2Baji%2Bborju.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 268px; height: 272px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPsQDuDjCI/AAAAAAAAAMM/zSdesXp6nqQ/s400/mie%2Bayam%2Baji%2Bborju.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567553324980603938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mie Ayam Aji Borju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPsAUFQiZI/AAAAAAAAAME/P5Yxwcw9qaQ/s1600/rumah%2Bmakan%2Bpantai32.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 272px; height: 313px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPsAUFQiZI/AAAAAAAAAME/P5Yxwcw9qaQ/s400/rumah%2Bmakan%2Bpantai32.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567553054494984594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Warnas Pantai Bu Enok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPrwX0XwOI/AAAAAAAAAL8/DaVzeg236k4/s1600/baranang.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 274px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPrwX0XwOI/AAAAAAAAAL8/DaVzeg236k4/s400/baranang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567552780619989218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Resto Saung Baranang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TULSfT1N9EI/AAAAAAAAAL0/Le86_LPaT-8/s1600/martabak.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 274px; height: 341px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TULSfT1N9EI/AAAAAAAAAL0/Le86_LPaT-8/s400/martabak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567243524724618306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Martabak Ramayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkkLTbofI/AAAAAAAAALs/zgDFVfI-7Co/s1600/to%2Bkalektoran13.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 276px; height: 229px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkkLTbofI/AAAAAAAAALs/zgDFVfI-7Co/s400/to%2Bkalektoran13.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567193030799892978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nasi TO Kalektoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkWZbQsrI/AAAAAAAAALk/agnKtFdmWCE/s1600/soto%2Bsapi%2Bh%2Bdidi.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 275px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkWZbQsrI/AAAAAAAAALk/agnKtFdmWCE/s400/soto%2Bsapi%2Bh%2Bdidi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567192794072658610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Soto Haji Didi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkHfMntoI/AAAAAAAAALc/djSI1HBXS3Q/s1600/seafood%2Bmutiara.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 275px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKkHfMntoI/AAAAAAAAALc/djSI1HBXS3Q/s400/seafood%2Bmutiara.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567192537923827330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sea Food Mutiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKj41TL0YI/AAAAAAAAALU/WcWZQqONvJc/s1600/mie%2Bbaso%2Bkurdi01.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 274px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKj41TL0YI/AAAAAAAAALU/WcWZQqONvJc/s400/mie%2Bbaso%2Bkurdi01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567192286158901634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Kurdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjsX8z8dI/AAAAAAAAALM/8CIJVVlrF0Y/s1600/jolly%2Bjoy.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 271px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjsX8z8dI/AAAAAAAAALM/8CIJVVlrF0Y/s400/jolly%2Bjoy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567192072122003922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jolly Joy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjTlw3IRI/AAAAAAAAALE/r97XmDkB0LU/s1600/gesa.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 274px; height: 406px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjTlw3IRI/AAAAAAAAALE/r97XmDkB0LU/s400/gesa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567191646333247762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Gesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjA-Oz9II/AAAAAAAAAK8/_MgKpCjsRKc/s1600/esah.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 277px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUKjA-Oz9II/AAAAAAAAAK8/_MgKpCjsRKc/s400/esah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567191326483805314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kupat Tahu H. Esah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-4239993864024347142?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/4239993864024347142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=4239993864024347142' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/4239993864024347142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/4239993864024347142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2011/01/gambar-dan-foto-kuliner-tasik-2.html' title='Gambar dan Foto Kuliner Tasik-2'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUPvj08U1yI/AAAAAAAAAMc/hMc62lj5Pec/s72-c/Abah%2BIi_30.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-7902425168795347789</id><published>2011-01-26T21:36:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T03:15:26.001-08:00</updated><title type='text'>Gambar dan Foto Kuliner Tasik-1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJemB0q8HI/AAAAAAAAAK0/FDNQFDcf6bs/s1600/warung%2Bnasi%2Bsi%2Bkabayan02.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 251px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJemB0q8HI/AAAAAAAAAK0/FDNQFDcf6bs/s400/warung%2Bnasi%2Bsi%2Bkabayan02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567116096800747634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Warnas Si Kabayan Jl. Cihideung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeUz98xeI/AAAAAAAAAKs/td4tdjgCtZ0/s1600/warung%2Bnasi%2BMM01.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeUz98xeI/AAAAAAAAAKs/td4tdjgCtZ0/s400/warung%2Bnasi%2BMM01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567115801023792610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Warnas MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeJ-u4-CI/AAAAAAAAAKk/KHf-XZHs77U/s1600/warung%2Bnasi%2BIbu%2BOom11.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 251px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeJ-u4-CI/AAAAAAAAAKk/KHf-XZHs77U/s400/warung%2Bnasi%2BIbu%2BOom11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567115614934857762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Warung Nasi Bu Oom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeAAH1j6I/AAAAAAAAAKc/MbUcyVAFnps/s1600/tahu%2Bbletok%2Bburangrang05.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 189px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJeAAH1j6I/AAAAAAAAAKc/MbUcyVAFnps/s400/tahu%2Bbletok%2Bburangrang05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567115443509235618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tahu Bletok Burangrang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJd2YMvWRI/AAAAAAAAAKU/QlU2bp9N6sM/s1600/soto%2Bsari%2Brasa09.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJd2YMvWRI/AAAAAAAAAKU/QlU2bp9N6sM/s400/soto%2Bsari%2Brasa09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567115278173559058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Soto Tugu Sari Rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdqOg5q3I/AAAAAAAAAKM/Njz81mMNSC0/s1600/soto%2Bpataruman23_09.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 169px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdqOg5q3I/AAAAAAAAAKM/Njz81mMNSC0/s400/soto%2Bpataruman23_09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567115069415336818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Soto Pataruman 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJddYAu6mI/AAAAAAAAAKE/vT-JvlWxCHM/s1600/sirop%2Bbojong04.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 406px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJddYAu6mI/AAAAAAAAAKE/vT-JvlWxCHM/s400/sirop%2Bbojong04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567114848626469474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sirop Bojong Bu Momoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdRJgrONI/AAAAAAAAAJ8/uSay-REvHgk/s1600/sate%2Bmaranggi13.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 254px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdRJgrONI/AAAAAAAAAJ8/uSay-REvHgk/s400/sate%2Bmaranggi13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567114638575483090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sate Maranggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdGNqyEyI/AAAAAAAAAJ0/xGP7gKGJfYU/s1600/pecel%2Boranye.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 222px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJdGNqyEyI/AAAAAAAAAJ0/xGP7gKGJfYU/s400/pecel%2Boranye.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567114450713056034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pecel Oranye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJc4ha89uI/AAAAAAAAAJs/jdgwX50KwnI/s1600/nasi%2Bto%2Bdadaha02.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 251px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJc4ha89uI/AAAAAAAAAJs/jdgwX50KwnI/s400/nasi%2Bto%2Bdadaha02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567114215497201378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nasi TO Dadaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcvDliHYI/AAAAAAAAAJk/14f99Vp28jU/s1600/nascikur3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcvDliHYI/AAAAAAAAAJk/14f99Vp28jU/s400/nascikur3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567114052869692802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nasi Cikur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJclcEfqQI/AAAAAAAAAJc/qQW-whI7c6Y/s1600/miedengkul6.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 191px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJclcEfqQI/AAAAAAAAAJc/qQW-whI7c6Y/s400/miedengkul6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567113887643314434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mie Dengkul Nagarawangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcWXPNy4I/AAAAAAAAAJU/t8Dnei74w_U/s1600/mie%2Bjaka01.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 191px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcWXPNy4I/AAAAAAAAAJU/t8Dnei74w_U/s400/mie%2Bjaka01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567113628648065922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mie Mang Jaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcLbvMDTI/AAAAAAAAAJM/bS7yliIUrQE/s1600/mie%2Bbaso%2BSamudera13.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 254px; height: 215px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJcLbvMDTI/AAAAAAAAAJM/bS7yliIUrQE/s400/mie%2Bbaso%2BSamudera13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567113440877350194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Samudera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJb85Qg8SI/AAAAAAAAAJE/ZsQBCRjW7ks/s1600/mie%2Bbaso%2Bkurdi07.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJb85Qg8SI/AAAAAAAAAJE/ZsQBCRjW7ks/s400/mie%2Bbaso%2Bkurdi07.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567113191103721762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Kurdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJbodTVD0I/AAAAAAAAAI8/gQom-T2llww/s1600/baso%2Bsimpati.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 250px; height: 356px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJbodTVD0I/AAAAAAAAAI8/gQom-T2llww/s400/baso%2Bsimpati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567112840001949506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Simpati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-a2toCDI/AAAAAAAAAI0/TZFyr7Rh0No/s1600/mie%2Bbaso%2Bjaro01.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 184px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-a2toCDI/AAAAAAAAAI0/TZFyr7Rh0No/s400/mie%2Bbaso%2Bjaro01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567080720467757106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Mas Jaro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-QeeuhjI/AAAAAAAAAIs/C-kq-LHQJr8/s1600/mie%2Bbaso%2Basooy07.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 254px; height: 350px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-QeeuhjI/AAAAAAAAAIs/C-kq-LHQJr8/s400/mie%2Bbaso%2Basooy07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567080542164125234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Asooy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-IbBU4pI/AAAAAAAAAIk/VoYQ5xD5UZE/s1600/mie%2Bbaso%2B5506.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 257px; height: 193px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI-IbBU4pI/AAAAAAAAAIk/VoYQ5xD5UZE/s400/mie%2Bbaso%2B5506.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567080403796550290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso 55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI97UzNTMI/AAAAAAAAAIc/sZD5bej-TYQ/s1600/mang%2Budin.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI97UzNTMI/AAAAAAAAAIc/sZD5bej-TYQ/s400/mang%2Budin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567080178788420802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur Mang Ijang/Mang Udin&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI9vT9xsCI/AAAAAAAAAIU/r1tDMTDq3F0/s1600/makaroni%2Bcitapen.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 256px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI9vT9xsCI/AAAAAAAAAIU/r1tDMTDq3F0/s400/makaroni%2Bcitapen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567079972405882914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Makaroni Special Citapen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8_VA9WOI/AAAAAAAAAIM/P-KK1Ki6sp4/s1600/lengko.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8_VA9WOI/AAAAAAAAAIM/P-KK1Ki6sp4/s400/lengko.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567079148053944546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lengko Sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI81dc4CnI/AAAAAAAAAIE/9S8-J5EjVrY/s1600/lekker.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 254px; height: 380px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI81dc4CnI/AAAAAAAAAIE/9S8-J5EjVrY/s400/lekker.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567078978519829106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;RM Lekker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8oA5A1aI/AAAAAAAAAH8/5DQ_gBa1GTU/s1600/kue%2Baci%2Bkarya%2Bayu04.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 191px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8oA5A1aI/AAAAAAAAAH8/5DQ_gBa1GTU/s400/kue%2Baci%2Bkarya%2Bayu04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567078747514918306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kue Aci Karya Ayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8ZIc4bOI/AAAAAAAAAH0/BQmYHLFAiqM/s1600/kiman.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 252px; height: 283px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8ZIc4bOI/AAAAAAAAAH0/BQmYHLFAiqM/s400/kiman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567078491846372578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Mas Kiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8NioGQnI/AAAAAAAAAHs/UqNbWSEdqao/s1600/bubur%2Bengkus%2Bpertamina_5.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 251px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8NioGQnI/AAAAAAAAAHs/UqNbWSEdqao/s400/bubur%2Bengkus%2Bpertamina_5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567078292714308210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur Mang Engkus Pertamina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8BfgB0AI/AAAAAAAAAHk/51zcmoWIEwE/s1600/biencar8.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI8BfgB0AI/AAAAAAAAAHk/51zcmoWIEwE/s400/biencar8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567078085716725762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kolak Bi Encar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7vIxWzkI/AAAAAAAAAHc/DKng9ADG_1A/s1600/baso%2Bsi%2Boding10.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 169px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7vIxWzkI/AAAAAAAAAHc/DKng9ADG_1A/s400/baso%2Bsi%2Boding10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567077770377743938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso SiAga/Haji Oding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7YMnvctI/AAAAAAAAAHU/7FLEWbso1oI/s1600/baso%2Bpriangan02.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7YMnvctI/AAAAAAAAAHU/7FLEWbso1oI/s400/baso%2Bpriangan02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567077376274166482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Priangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7KBBoZLI/AAAAAAAAAHM/yFtmAJr8yfg/s1600/baso%2Bmas%2Bwiji07.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 169px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7KBBoZLI/AAAAAAAAAHM/yFtmAJr8yfg/s400/baso%2Bmas%2Bwiji07.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567077132643361970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Mas Wiji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7A2u8qRI/AAAAAAAAAHE/uU-VZDymaCA/s1600/baso%2Blaksana24.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 253px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI7A2u8qRI/AAAAAAAAAHE/uU-VZDymaCA/s400/baso%2Blaksana24.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567076975261821202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Laksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI60KvuCZI/AAAAAAAAAG8/v5-3kE28dFI/s1600/baso%2Bdidi.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 232px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI60KvuCZI/AAAAAAAAAG8/v5-3kE28dFI/s400/baso%2Bdidi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567076757295466898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Mang Didi Citapen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI6F139BqI/AAAAAAAAAG0/fZqeDlr3StA/s1600/baso%2Bceria.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 258px; height: 295px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI6F139BqI/AAAAAAAAAG0/fZqeDlr3StA/s400/baso%2Bceria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567075961418876578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI53tup1hI/AAAAAAAAAGs/ojx1hkQ4Qxw/s1600/balox.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 260px; height: 201px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI53tup1hI/AAAAAAAAAGs/ojx1hkQ4Qxw/s400/balox.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567075718714218002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kue Balok Ampera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5sLh2YJI/AAAAAAAAAGk/QjBJlJcAqZk/s1600/ayam%2Bciamis.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 262px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5sLh2YJI/AAAAAAAAAGk/QjBJlJcAqZk/s400/ayam%2Bciamis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567075520555147410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayam Goreng Ciamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5gltbfrI/AAAAAAAAAGc/1vxAUJ8s5v0/s1600/Ayam%2Bbakar%2BRiung%2BGunung.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 264px; height: 345px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5gltbfrI/AAAAAAAAAGc/1vxAUJ8s5v0/s400/Ayam%2Bbakar%2BRiung%2BGunung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567075321424608946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayam Bakar Riung Gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5VypeYGI/AAAAAAAAAGU/-AiknecZ0-4/s1600/ayam%2Bbakar%2Bhenhen.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 275px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5VypeYGI/AAAAAAAAAGU/-AiknecZ0-4/s400/ayam%2Bbakar%2Bhenhen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567075135919120482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayam Bakar Hen Hen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5DMdNURI/AAAAAAAAAGM/loo3FqtfFYk/s1600/rujak%2Bdan%2Bpecel%2BIbu%2BOma10.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 277px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI5DMdNURI/AAAAAAAAAGM/loo3FqtfFYk/s400/rujak%2Bdan%2Bpecel%2BIbu%2BOma10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567074816429478162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pecel Bu Oma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI4wEhOeZI/AAAAAAAAAGE/k0X2u_Lo5Jw/s1600/sate%2Bharis.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 278px; height: 237px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUI4wEhOeZI/AAAAAAAAAGE/k0X2u_Lo5Jw/s400/sate%2Bharis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567074487881333138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sate Haji Haris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF4HZphRII/AAAAAAAAAF8/PdHLh1JQeJg/s1600/tahpat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 279px; height: 233px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF4HZphRII/AAAAAAAAAF8/PdHLh1JQeJg/s400/tahpat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566862682946094210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kupat Tahu Kabita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF34tVSqII/AAAAAAAAAF0/AKLI6jjhy5M/s1600/sot.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 280px; height: 257px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF34tVSqII/AAAAAAAAAF0/AKLI6jjhy5M/s400/sot.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566862430531922050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Soto Haji Didi Empang Banli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3ecb54HI/AAAAAAAAAFs/Tbk8gueUHpk/s1600/rujak%2Buleg1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 279px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3ecb54HI/AAAAAAAAAFs/Tbk8gueUHpk/s400/rujak%2Buleg1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566861979319656562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rujak Uleg Bi Encar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3QG-_F-I/AAAAAAAAAFk/rda9HzNWz80/s1600/lotex.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 280px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3QG-_F-I/AAAAAAAAAFk/rda9HzNWz80/s400/lotex.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566861733043050466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lotek Bi Iyoy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3B-xx8vI/AAAAAAAAAFc/CVtXpM6b49o/s1600/kupat%2Btahu%2Bh%2Besah05.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 282px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF3B-xx8vI/AAAAAAAAAFc/CVtXpM6b49o/s400/kupat%2Btahu%2Bh%2Besah05.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566861490322010866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kupat Tahu H. Esah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF2t7MEfgI/AAAAAAAAAFU/FcjgLQpESSA/s1600/bubur%2Bdokar.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 282px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF2t7MEfgI/AAAAAAAAAFU/FcjgLQpESSA/s400/bubur%2Bdokar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566861145761152514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur Dokar Mang H. Husin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF1ujgfeXI/AAAAAAAAAFM/V8fNFwlnCQU/s1600/beybey2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 285px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUF1ujgfeXI/AAAAAAAAAFM/V8fNFwlnCQU/s400/beybey2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566860057072597362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mie Ayam Bey-Bey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFuz1BT2YI/AAAAAAAAAFE/ydUI2dA_GnQ/s1600/mie%2Bbaso%2Bloma16.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 283px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFuz1BT2YI/AAAAAAAAAFE/ydUI2dA_GnQ/s400/mie%2Bbaso%2Bloma16.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566852451091601794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Loma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFuO7tT98I/AAAAAAAAAE8/LA9C1n0bAv8/s1600/bubur%2Bzaenal16.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 285px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFuO7tT98I/AAAAAAAAAE8/LA9C1n0bAv8/s400/bubur%2Bzaenal16.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566851817231611842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bubur H. Zenal&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFtmrklZzI/AAAAAAAAAE0/kQDMg9NrxQg/s1600/bubur%2Bzaenal16.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFsvK2NS7I/AAAAAAAAAEs/jxjfHe6cgjg/s1600/baso%2Bkomar052.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 287px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFsvK2NS7I/AAAAAAAAAEs/jxjfHe6cgjg/s400/baso%2Bkomar052.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566850172028013490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baso Komar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFsI_t_JxI/AAAAAAAAAEk/X6d5ltvZmvA/s1600/101_0161.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 310px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUFsI_t_JxI/AAAAAAAAAEk/X6d5ltvZmvA/s400/101_0161.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566849516205713170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nasi Tutug Oncom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUEIBVhfw7I/AAAAAAAAAEU/PvjUn3mF9us/s1600/nodles.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-7902425168795347789?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/7902425168795347789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=7902425168795347789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/7902425168795347789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/7902425168795347789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2011/01/gambar-dan-foto-kuliner.html' title='Gambar dan Foto Kuliner Tasik-1'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TUJemB0q8HI/AAAAAAAAAK0/FDNQFDcf6bs/s72-c/warung%2Bnasi%2Bsi%2Bkabayan02.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-635695751393793421</id><published>2011-01-15T16:19:00.000-08:00</published><updated>2011-01-15T16:23:22.816-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peta Wisata Kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peta Kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner Tasik'/><title type='text'>Peta Kuliner Tasikmalaya Upaya Meningkatkan Pertumbuhan UKM</title><content type='html'>Jumat, 14 Jan 2011 17:06:12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasikmalaya, 14/1 (ANTARA) - Peta kuliner Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang akan diterbitkan dengan prioritas penyebaran wilayah luar kota sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan penggerak usaha kecil menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita akan sebarkan peta kuliner ini untuk menarik minat wisatawan di luar kota, ketika datang ke sini sudah mengetahui berbagai jajanan khas Kota Tasikmalaya," kata pecinta kuliner Kota Tasikmalaya, Maulana Yudiman kepada wartawan, Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Tasikmalaya sebagai kawasan yang memiliki keeanekaragaman makanan khas di Jawa Barat, kata Maulana, masyarakat atau wisatawan dari luar kota dengan membawa peta kuliner akan memudahkan menemukan tempat jajanan kuliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tempat makanan khas Kota Tasimalaya yang belum terpusatkan itu, kata Maulana, peta kuliner tersebut menjelaskan nama jalan dan alamatnya serta nama makanan khasnya, dengan penyebarannya melalui pembelian tiket bis maupun di pusat perbelanjaan di kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adanya peta kuliner ini, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Tasikmalaya sebagai kota tujuan wisata kuliner," kata Maulana penulis buku berjudul "Tasik Funtastic Kuliner".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya Kota Tasikmalaya memiliki kekayaan anekaragam kuliner yang menyimpan potensi menjadi kawasan kuliner wilayah Priangan Timur atau Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap penyebaran peta kuliner ke berbagai daerah kota besar di dalam dan luar Jawa Barat, dapat membangun potensi kuliner Kota Tasikmalaya dalam upaya mensejahterakan masyarakat pedagang makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami ingin seperti di Yogyakarta, atau bahkan di luar negeri seperti Singapura, disana tertata rapi dipusatkan kuliner, dan berharap di Kota Tasikmalaya seperti itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain meningkatkan pertumbuhan ekonim penggerak usaha makanan, menurut Maulana selanjutnya akan berpengaruh pada tingkat kunjungan wisata yang ada di Kota Tasikmalaya, termasuk berbelanja berbagai produk khas kerajinan Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diharapkan dari Pemkot Tasikmalaya bisa membina UKM, karena ini akan berpengaruh pada sektor pariwisata dan meningkatkan daya beli," kata Maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, rencana penerbitan peta kuliner Kota Tasikmalaya sementara akan dicetak sebanyak tiga ribu eksemplar, ukuran peta tersebut dilipat praktis hingga dapat dibawa mudah dan disimpan dalam saku celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peta tersebut terdapat foto-foto makanan khas Kota Tasikmalaya, diantaranya mie bakso, bubur ayam, kupat tahu, aneka kolak, ayam goreng, martabak dan soto serta minuman es bojong, semuanya sudah memiliki ketenaran diberbagai lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Termasuk nasi tutug oncom atau disebut T-O sudah menjadi ikon kuliner Kota Tasikmalaya, dan itu diklaim sebagai inovasi kuliner asli orang Tasik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feri P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://antarajawabarat.com/lihat/berita/29835/peta-kuliner-tasikmalaya-upaya-meningkatkan-pertumbuhan-ukm"&gt;http://antarajawabarat.com/lihat/berita/29835/peta-kuliner-tasikmalaya-upaya-meningkatkan-pertumbuhan-ukm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-635695751393793421?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/635695751393793421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=635695751393793421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/635695751393793421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/635695751393793421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2011/01/peta-kuliner-tasikmalaya-upaya.html' title='Peta Kuliner Tasikmalaya Upaya Meningkatkan Pertumbuhan UKM'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-727191997057345446</id><published>2011-01-15T16:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-15T16:34:32.440-08:00</updated><title type='text'>Peta Kuliner Siap Disebar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TTI9CD-iRyI/AAAAAAAAADs/mLd2BRBWAeA/s1600/Peta%2BRevisi%2BAditoke..jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 279px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TTI9CD-iRyI/AAAAAAAAADs/mLd2BRBWAeA/s400/Peta%2BRevisi%2BAditoke..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562575595392616226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 15 Januari 2011 09:30&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;TASIK -&lt;/span&gt; Sebanyak tiga ribu eksemplar peta wisata kuliner, siap didistribusikan melalui perusahaan penyelenggara tour n travel di luar kota. Cara tersebut untuk menarik minat wisatawan datang ke Kota Tasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Buku Tasik Funtastic Kuliner Maulana Yudiman mengatakan, sebagai salah satu kota dengan kekayaan dan keragaman kuliner, Kota Tasik menyimpan potensi sebagai salah satu destinasi wisata kuliner di Priangan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kata Maulana, mewujudkan Tasik sebagai kota tujuan wisata kuliner, pihaknya meluncurkan tiga ribu peta yang berisi panduan jalan untuk menuju tempat makanan dan jajanan yang berada di Kota Tasik. ”Melalui peta ini, wisatawan akan merasa mudah mencari tempat kuliner di Kota Tasik,” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta tersebut jenis peta saku yang praktis dan bisa disimpan di kantung celana dan tidak akan ribet dibawa. Karena dengan ukuran kertas 297 mm x 420 m (A3). ”Peta kuliner ini terlihat artistik dan mudah untuk digunakan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penggiat kreatif peta, Uyung Arya mengatakan, penerbitan peta merupakan bentuk dukungan pengembangan program wisata kuliner yang harus melibatkan banyak pihak. ”Secara otomatis perlu dukungan pemkot dalam hal ini selaku stakeholder,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreasi Uyung tersebut disambut baik Wali Kota Drs Syarif Hidayat MSi. Ditemui Radar, Syarif menuturkan adanya peta tersebut diharapkan wisata kuliner terpromosikan kepada masyarakat dan wisatawan. ”Hal ini juga dapat membantu mengembangkan usaha kecil menengah kuliner,” tandasnya. (kim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=8666:peta-kuliner-siap-disebar&amp;amp;catid=29:the-cms&amp;amp;Itemid=181&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-727191997057345446?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/727191997057345446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=727191997057345446' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/727191997057345446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/727191997057345446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2011/01/peta-kuliner-siap-disebar.html' title='Peta Kuliner Siap Disebar'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TTI9CD-iRyI/AAAAAAAAADs/mLd2BRBWAeA/s72-c/Peta%2BRevisi%2BAditoke..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-7392997060412670960</id><published>2010-03-08T16:04:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T16:35:11.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantastik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Tentang Buku Tasik Funtastic Kuliner</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/S5WS4htzD3I/AAAAAAAAACg/pGbsj9Hgbss/s1600-h/01-+Cover.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 275px; height: 393px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/S5WS4htzD3I/AAAAAAAAACg/pGbsj9Hgbss/s400/01-+Cover.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446420824195272562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CCOMPAQ%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CCOMPAQ%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CCOMPAQ%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Gill Sans MT"; 	panose-1:2 11 5 2 2 1 4 2 2 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:8.5pt; 	font-family:"Gill Sans MT","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:black; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Buku Tasik Funtastic Kuliner lahir dari kesadaran tentang pentingnya aspek promosi dan pemasaran untuk menjadikan sebuah produk, khususnya produk kuliner, banyak dikenal. Terlebih, untuk kota Tasikmalaya yang memiliki visi sebagai pusat perdagangan dan industri termaju di kawasan Priangan Timur tahun 2012.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Selama ini, informasi tentang kuliner kota Tasikmalaya yang berisi komentar, review, dan pengalaman mencicipi kelezatannya, banyak berserakan di berbagai media. Baik itu cetak maupun elektronik. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Beberapa pemilik dan pengelola usaha &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kuliner di Tasik bahkan sudah pernah diliput secara khusus oleh beberapa stasiun TV swasta nasional. Namun, kebanyakan hanya menginformasikan satu-dua makanan/kuliner yang secara umum sudah banyak dikenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Padahal kota Tasikmalaya menyimpan potensi wisata kuliner yang luar biasa. Bayangkan, untuk kategori jajanan mie baso saja, Tasik memiliki beberapa ’genre’ baso. Jika dilihat dari asal daerahnya, ada baso solo, baso wonogiri, baso ciamis. Belum lagi jika dilihat dari varian isinya. Baso babat dan ceker mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana dengan Baso Tangkar? Atau Baso Kurdi yang mencampur mie dengan rajangan kubis? Itu hanya untuk jajanan bernama baso. Masih ada bubur ayam, yang meskipun memiliki H. Zenal yang harganya cukup premium untuk ukuran kota sebesar Tasik, tapi juga memiliki Bubur Mang Udin di Citapen yang harga satu porsinya standar saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Belum lagi jenis makanan/kuliner yang lain. Nasi Tutug Oncom (TO) Tasik sudah sejak lama dikenal kelezatannya. Nasi TO boleh diklaim sebagai inovasi kuliner asli orang Tasik. Maka dapat dipastikan, jika ditemukan Nasi TO di kota lain, berarti penjualnya memiliki keterkaitan dengan Tasik, atau setidaknya pernah tinggal di Tasikmalaya. Tahu kupat Tasik juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mau rujak dan lotek? Di Jalan R Ikik Wiradikarta (Kalektoran) setidaknya terdapat dua pedagang yang senantiasa menjadi rujukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Dari sini bisa diambil kesimpulan, masyarakat kota Tasikmalaya terbuka dan apresiatif terhadap aneka jenis kuliner. Selain itu, para pemilik usaha kuliner juga senantiasa menjaga kualitas rasa dan karya kuliner mereka, tidak berubah dan mampu bertahan sepanjang waktu. Bubur Ayam H. Zenal telah hadir sejak tahun 1961. Soto Ayam 23 Pataruman, kini dikelola generasi ketiga, dan masih banyak lagi usaha kuliner yang telah diturunkan dan diteruskan oleh generasi penerus. Dengan demikian, kuliner kota Tasik juga merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;”Proyek” mendokumentasikan kuliner kota Tasikmalaya ini sebenarnya telah dimulai sejak 2006. Setelah tidak lagi bekerja sebagai jurnalis di Jakarta, saya mengelola usaha budidaya ikan air tawar di Kampung Balo, Sukamahi - Sukaratu, Tasikmalaya. Kondisi ini mengharuskan saya menghabiskan waktu di dua tempat sekaligus. Bandung, dimana saya dan keluarga berdomisili, dan Tasik tempat saya menjalankan usaha. Di sela-sela waktu luang menjalankan usaha itulah saya berwisata kuliner, ngobrol dengan pemilik dan pengelola usaha kuliner, memotret dan menulis ”laporan pandangan mata”, dari lokasi wisata kuliner yang saya kunjungi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Beberapa diantaranya adalah langganan sejak lama. Masih teringat, saat SD tahun 80an diajak orang tua menikmati Bubur Zenal, Baso Komar, Tahu Kupat Kabita, atau Ayam Bakar Riung Gunung yang kelezatannya masih bisa saya bayangkan hingga saat ini. Ketika SMP dan SMA &lt;i style=""&gt;preference&lt;/i&gt; kuliner saya bertambah karena bersama teman kemudian jajan di (Baso) Laksana, atau menikmati Nasi TO Pataruman, sebagai ”konsumsi” wajib saat berkegiatan Pramuka. Setelah harus meninggalkan kota Tasikmalaya karena studi di Bandung dan kemudian bekerja di Jakarta, kuliner kota Tasikmalaya hanya bisa dinikmati saat lebaran tiba. Tentu dengan ragam dan kekhasan yang semakin bertambah. Beberapa orang teman di masa kecil bahkan menjalankan usaha di bidang kuliner dan sukses. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Di era ketika arus informasi mengalir sangat deras mela&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;ui internet. Saya semakin dimudahkan dan diuntungkan dalam mengerjakan proyek dokumentasi kuliner ini. Dari milis, facebook, blog, banyak orang berbagi informasi tentang lokasi tempat jajanan favorit, yang kemudian saya datangi untuk saya buktikan sendiri kebenaranya. Tak terasa, dari kegiatan yang semula hanya untuk konsumsi pribadi dan berbagi dengan kawan dekat, ternyata terhimpun menjadi kumpulan informasi yang cukup lengkap. Muncul gagasan di kepala untuk menjadikan kumpulan informasi ini sebagai buku, yang mudah-mudahan bermanfaat sebagai salah satu media informasi tentang kuliner yang ada di kota Tasikmalaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Tentu saja buku ini sangat banyak kekurangannya. Maklum segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Sejak &lt;i style=""&gt;hunting&lt;/i&gt; kuliner, memotret, menulis &lt;i style=""&gt;review&lt;/i&gt;-nya, mendesain tata letak, mencari sponsor hingga mendistribusikannya. Beruntung saya memiliki teman yang secara sukarela membantu proyek ini. Teman SMP yang kini jadi dosen di Jurusan Desain dan Komunikasi Visual Unpas, Boy Irwan Budiman, sempat menemani hunting dan memotret beberapa lokasi kuliner di Tasik, serta memberikan sentuhan pada cover buku dan sebagian isi buku. Budi Raspati, teman sesama mantan aktifis Pramuka di SMA, yang kini bekerja sebagai Wakil Manajer Iklan di HU Priangan turut membantu pemasaran, terutama mencari sponsor yang akan mendanai penerbitan buku ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Patut diakui dan harap dimaklumi, Buku Tasik Funtastic Kuliner ini jelas tidak akan dapat mewadahi aspirasi kuliner semua orang. Terlebih jika yang menjadi ukuran adalah selera orang per orang. Untuk hal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang satu ini, ijinkan saya mengutip sebuah pepatah latin. &lt;i style=""&gt;De Gustibus Non Est Disputandum&lt;/i&gt;. Menurut situs wikipedia, arti pepatah ini kira-kira ;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:130%;"&gt;"Mengenai selera, tidaklah bisa dibuat sebuah diskusi."&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah jelas akan terjadi debat berkepanjangan jika berdiskusi soal selera. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;Dengan demikian, jika buku ini tidak mampu mengundang selera anda untuk menikmati s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;jian yang ada di dalamnya, saya tidak bisa berbuat banyak. Selain karena semuanya sangat subjektif – informasi yang tersaji hadir hanya dari sudut pandang saya pribadi, juga karena alasan itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;tadi &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:130%;"&gt;; Selera tak bisa diperdebatkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Terakhir, harapan saya, buku ini hadir untuk menjadi sarana promosi kuliner kota Tasikmalaya. Jika kemudian muncul buku dan informasi dalam ragam dan bentuk lainnya yang menginformasikan kekayaan dan kekhasan kuliner kota tercinta ini, saya sungguh senang dan gembira. Semakin banyak, informasi tentang kuliner kota Tasikmalaya ini tersebar, akan semakin banyak juga yang mengenal dan datang mengunjungi kota penghasil bordir, batik, dan tempat lahir Susi Susanti, atlit peraih emas olimpiade Barcelona 1992 ini. Semoga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-7392997060412670960?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/7392997060412670960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=7392997060412670960' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/7392997060412670960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/7392997060412670960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2010/03/tentang-buku-tasik-funtastic-kuliner.html' title='Tentang Buku Tasik Funtastic Kuliner'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/S5WS4htzD3I/AAAAAAAAACg/pGbsj9Hgbss/s72-c/01-+Cover.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-2280913826494477825</id><published>2008-06-12T16:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T00:20:24.433-08:00</updated><title type='text'>Menjual buah dan sayur Indonesia ke Singapura</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG5iX9mH8I/AAAAAAAAABI/-gQY3l7_8fs/s1600-h/seminar+fruits+and+vegetables+086.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211150244043431874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG5iX9mH8I/AAAAAAAAABI/-gQY3l7_8fs/s200/seminar+fruits+and+vegetables+086.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tanggal 4 – 5 Juni 2008 lalu, saya berkesempatan menghadiri seminar bisnis bertema : ”Enggaging Indonesia in Vegetables Export to Singapore”. Seminar ini diselenggarakan oleh Agri-Food and Veterinary Authority (AVA) of Singapore, dan difasilitasi KBRI Singapura. Jika di Indonesia, AVA ini mungkin semacam Badan POM, namun dengan kewenangan yang lebih luas, karena melakukan beragam test untuk beragam jenis produk makanan berbasis nabati dan hewani sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis pangan yang melanda dunia beberapa waktu terakhir membuat pemerintah Singapura khawatir. Meski menjadi negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di kawasan Asia Tenggara, tetap saja mereka dipusingkan oleh terbatasnya sumber pasokan produk pertanian yang dimiliki. Maklum, Singapura yang mengandalkan pendapatan mereka kepada bisnis jasa, wisata, dan keuangan, menjadikan mereka berkelimpahan. PDB Singapura mencapai US $ 28.284, kelima tertinggi di dunia. Dengan demikian, untuk urusan sayur dan buah, mereka bisa mengimpor dari negara mana saja sesuka mereka. Hingga tahun 2007, sebanyak 389,807 ton produk sayur dan buah singapura senilai S$ 350 juta merupakan produk impor. Hanya 19,07 ton yang merupakan produksi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan sayur dan buah Singapura selama ini dipasok dari Malaysia (Cameron Highland), dan Johor. Selain Malaysia, China dan Thailand secara kontinu memenuhi kebutuhan sayur dan buah negeri Singa ini. Indonesia? Nah ini dia, meski merupakan negara tetangga dekat, produk sayur dan buah Indonesia belum cukup mampu bicara banyak. Di Pasir Panjang Wholesale Center (pasar induk untuk sayur dan buah), hampir mayoritas produk sayur dan buah yang bisa ditemui datang dari Malaysia, Thailand, China, Australia, India dan Amerika Serikat. Hanya Kubis dari Medan, Sumatera Utara yang saat itu sedang diturunkan dari kontainer. Padahal jika merujuk pada data statistik impor/ekspor Singapura, pada 1991 ekspor sayur dan buah Indonesia mencapai 47,880 ton (14%). Angka ini turun menjadi hanya 25,280 ton (5,8%) di tahun 2005 dan naik sedikit 26,636 ton (6,5%) pada 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke seminar bisnis yang saya hadiri itu, pemerintah Singapura, merasa perlu membuka sumber-sumber pasokan baru, agar kebutuhan sayur dan buah mereka terpenuhi. Malaysia, jelas tak bisa lagi dijadikan satu-satunya andalan. Apalagi setelah Johor, salah satu kawasan pemasok sempat dilanda banjir, yang membuat pasokan sayuran ke Singapura terhenti beberapa saat. Mengantisipasi hal ini, termasuk bencana krisis pangan yang membayang di depan mata, Singapura segera saja mencari sumber pasokan lain. Indonesia, negara tetangga yang posisinya berhadapan muka, dengan pasokan sayur buah melimpah jelas harus jadi prioritas pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadirlah di seminar bisnis tersebut, para pelaku usaha pertanian asal Indonesia, dan para buyer/trader/importir sayuran dan buah asal Singapura. Selain para pejabat KBRI, Pemerintah Indonesia mengutus staf Ahli Menteri Pertanian Dr. Delima Hasari Azahari untuk menjadi salah satu pembicara kunci. Pembicara lain, Nurul Ichwan, Kepala Kantor Perwakilan BKPM RI di Singapura, Mr. Leslie Cheong dari AVA, dan Mrs Lam juga dari AVA. Ada juga Mrs. Angeline Suparto, praktisi hukum yang bicara tentang seluk beluk regulasi dan aspek legal dalam bidang investasi khususnya investasi agribisnis di Indonesia. Ketua Asosiasi Eksportir/Importir Sayur dan Buah Singapura (SFVIA), Mr. Tay Khiam Back, berbicara tentang ekspektasi buyer terhadap produk sayur dan buah yang akan diimpor oleh Singapura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta asal Indonesia datang dari berbagai daerah. Saya (CV Bimandiri) dan Komar Mulya (PT Alamanda Utama Sejati) mewakili Jawa Barat. Ada Pak Nasikin dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur, Pak Eddy Antoro pemilik usaha agrowisata Kusuma beserta istrinya, ada Pak FX Suwarto seorang aktifitas LSM pertanian yang gigih menawarkan model pertanian berkelanjutan dan bernilai ekonomis tinggi. Dari Sumatera, ada Pak IGK Sastrawan, Dirut PD Agromadear, BUMD asal Simalungun Sumut, juga para pengusaha asal Kepri, Bu Netty Darsono pengurus Kadin Batam, Budimulyono Widyaatmadja, eskportir buah dan sayur asal Jakarta, serta Pak Ir. Soekam Purwadi dari Dinas Pertanian Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dikusi panel di sesi pagi seminar, Bu Hj. Delima, sebagai "official Indonesian government" dicecar dan dihujani banyak pertanyaan seputar kebijakan dan regulasi bidang pertanian. Beruntung, beliau cukup tangkas dan taktis menjawab berbagai pertanyaan termasuk keluhan dari Mr. Hans Bijlmer, Dirut PT Strawberindo Lestari, yang berkeluh kesah tentang prosedur dan regulasi pengadaan pupuk yang menurutnya membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi positif mungkin patut disampaikan kepada Nurul Ichwan, Kepala kantor perwakilan BKPM. Lewat presentasinya yang menarik, menghibur, dan disampaikan dalam bahasa Inggris yang fasih, Nurul berbicara tentang potensi investasi bagi para pengusaha Singapura di Indonesia. Nurul mungkin bisa menjadi model pejabat Indonesia di luar negeri, yang bekerja all out menjual dan mempromosikan Indonesia, meski wajah Indonesia di mancanegara sudah terlanjur tercoreng moreng. Dua hari kemudian, dalam diskusi yang lebih intens di kantornya yang nyaman di Raffles Tower kawasan City Hall, saya dan Nurul bertukar pikiran tentang upaya memasarkan produk pertanian Indonesia khususnya Jawa Barat di Singapura, mencoba mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi, serta - ini yang penting - menghubungkan kami dengan jejaring bisnisnya yang tersebar di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai seminar, malam harinya kami dijamu makan malam oleh Pak Dubes Wardhana di KBRI di kawasan Chasworth. Dalam sambutannya, Pak Dubes mengucapkan terimakasih atas kesediaan para buyer Singapura dalam menjalin hubungan yang lebih intens dengan para pelaku usaha pertanian Indonesia. KBRI, kata dubes, akan senantiasa mendorong dan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada upaya dagang yang dilakukan oleh para pelaku usaha dari kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG6f6gseFI/AAAAAAAAABQ/zrX3KedPqi8/s1600-h/seminar+fruits+and+vegetables+091.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211151301289474130" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG6f6gseFI/AAAAAAAAABQ/zrX3KedPqi8/s200/seminar+fruits+and+vegetables+091.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, kami melakukan kunjungan lapangan ke beberapa tempat. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Pasir Panjang Wholesale Center, alias Pasar Induk Singapura. Di sini, kami melihat dari dekat proses bongkar muat produk sayur dan buah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Produk buah dan sayur yang masuk ke pasir panjang umumnya datang dari Malaysia (Cameron Highland untuk sayuran dataran tinggi), Thailand (buah-buahan), India, Australia, dan Amerika Serikat. Produk sayur Indonesia yang berhasil “lolos” masuk Pasir Panjang adalah kubis, dari Medan Sumatera Utara. Ini bisa dikenali karena setelah dikeluarkan dari kontainer, kubis dibungkus koran berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasir Panjang, setiap kemasan buah dan sayur, dilengkapi dengan label informasi produk. Label ini penting untuk melakukan penelusuran produk jika nantinya terjadi sesuatu. Petugas AVA, secara rutin mengumpulkan sampel setiap produk buah dan sayur untuk dikirim ke laboratorium AVA untuk diteliti. Kunjungan di Pasir Panjang diakhiri oleh sesi diskusi dan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pasir Panjang, kami menuju AVA Laboratory Test di kawasan Lim Cu Kang Agri Biopark. Di Fasilitas laboratorium yang lumayan jauh dari pusat kota singapura ini, kami melihat dari dekat proses penelitian sample untuk produk sayur dan buah yang akan dipasarkan di Singapura. AVA melakukan dan menerima permintaan test untuk beragam spektrum resiko kimiawi dan mikrobiologis. Termasuk untuk racun yan terdapat dalam bahan pangan, organisme dan unsur kimia berbahaya, hingga racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AVA Laboratory Test menerima dan meneliti sekitar 250 sampel produk sayur dan buah setiap harinya. Untuk setiap sampel yang diteliti dibutuhkan waktu delapan jam, hingga dinyatakan negatif dan aman untuk dipasarkan/dikonsumsi. Hal yang paling utama untuk produk sayur dan buah yang akan dipasarkan di Singapura adalah residu pestisida yang harus berada di ambang minimal, dan tidak adanya racun/kandungan berbahaya lain ditemukan dalam produk sayur dan buah. Semua proses dilakukan secara moderen dan komputerisasi. AVA Pesticide Residue Lab yang memiliki fasilitas bernilai sekitar Rp 15 miliar ini tidak mengenakan tarif untuk setiap sampel tes yang diajukan oleh para importir sayur dan buah/petani singapura, alias gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai meninjau AVA Res. Pest. Lab, kami menungunjungi Kok Fah Technology Farms di kawasan Sungei Tengah. Di sini, kami melihat Mr. Wong Kok Fah, pengelola lahan pertanian menanam beragam sayuran seperti kangkung, bayam, caisim, kailan dan lidah buaya. Kok Fah Farm memiliki packing house, dengan fasilitas precooling system dan cold room yang beroperasi selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG9cBr13KI/AAAAAAAAABg/b1kHvas8PeI/s1600-h/seminar+fruits+and+vegetables+122.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG9cBr13KI/AAAAAAAAABg/b1kHvas8PeI/s1600-h/seminar+fruits+and+vegetables+122.JPG"&gt;&lt;/a&gt;Lahan pertanian yang dikelola Kok Fah meliputi areal seluas 4 hektare, dan dilengkapi jaring pelindung serangga. Kok Fah &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG8XXy2iHI/AAAAAAAAABY/hIcJAozNr9I/s1600-h/seminar+fruits+and+vegetables+157.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211153353554692210" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG8XXy2iHI/AAAAAAAAABY/hIcJAozNr9I/s200/seminar+fruits+and+vegetables+157.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;menyuplai sekitar 4-5 ton sayuran segar setiap harinya ke Fair Frice, jaringan supermarket milik pemerintah. Hasil sayuran produksi sendiri sekitar 900 kg perhari. Sisanya, produk sayuran impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kok Fah, kami melanjutkan perjalanan ke Fresh Food Distribution Center yang merupakan pusat penyimpanan produk sayuran, buah dan makanan segar milik jaringan supermarket Cold Storage. Fasilitas yang dimiliki Cold Storage ini adalah cold room raksasa yang mampu menyimpan lebih dari 8 ton jenis produk sayur dan buah dalam suhu konstan 8 derajat celcius. Produk yang tersimpan di FFDC ini setiap harinya dikirim ke lebih dari 100 gerai di seluruh Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan ke Singapura ini, setidaknya memberikan harapan akan potensi pemasaran produk buah dan sayuran Indonesia khususnya Jawa Barat ke Singapura. Intinya, pasar Singapura masih terbuka luas untuk dimasuki beragam produk sayur dan buah unggulan. Syaratnya lolos test AVA untuk residu pestisida, memenuhi aspek keamanan pangan yang dapat dicapai melalui cara-cara bertani yang baik (GAP), produk dikemas secara modern dan memenuhi syarat-syarat pengemasan standar, serta pengiriman konsisten sesuai kontrak yang disepakati. Jadi tunggu saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat produk sayur dan buah Indonesia akan segera membanjiri singapura. Semoga.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-2280913826494477825?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/2280913826494477825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=2280913826494477825' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/2280913826494477825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/2280913826494477825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2008/06/menjual-buah-dan-sayur-indonesia-ke.html' title='Menjual buah dan sayur Indonesia ke Singapura'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/SFG5iX9mH8I/AAAAAAAAABI/-gQY3l7_8fs/s72-c/seminar+fruits+and+vegetables+086.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-3126602110223869015</id><published>2007-11-29T05:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T00:20:24.675-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Article on The Jakarta Post'/><title type='text'>Finding HR Management Challenging</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R067cd8vJyI/AAAAAAAAAA0/47ujPjeZhL8/s1600-h/DSCF2124.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138250322626422562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R067cd8vJyI/AAAAAAAAAA0/47ujPjeZhL8/s200/DSCF2124.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;When public trust in the banking industry waned quite a few years ago banking practitioners took note. They realized that they had to act in a reliable and professional manner and stay away from practices that could further erode public trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learning from this, the central bank (Bank Indonesia), introduced various measures to ensure that banks select people who were capable of maintaining public trust. To this end, BI requires banks to ensure that their managing executives meet certain requirements, such as the stipulation that bank executives must possess a risk management certificate, pass screening and have compliance and risk management clearance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is in this context that Heru Budiargo, executive director of compliance and human resources at PT Bank Niaga, considers the application of Good Corporate Governance (GCG) important in the banking industry. For its part, Bank Niaga has long applied this principle to ensure that the bank is well managed by its executives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"GCG has been applied for a long time at Bank Niaga," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many banks collapsed when the economic crisis hit the banking sector in late 1997. Bank Niaga was one of the few banks free of moral hazards, such as exceeding the maximum ceiling on loans (BPMK), violating banking regulations, extending loans to affiliated businesses, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"One can surmise that the aspects of prudence and professionalism have long been applied at Bank Niaga," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ultimately, however, Bank Niaga could not escape the problems facing the banking sector. This bitter reality happened because its business portfolio was focused on corporate loans, which indeed entail a high risk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sustainable application of GCG has produced a significant result. Owing to efforts by the management of the bank, which is deeply concerned with education and training, improvement in competence and professional expertise and the application of GCG in keeping with international standards, Bank Niaga has received a rating level of 6+ from independent rating institution Standard &amp;amp; Poor's.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, Bank Niaga was also presented an award by the Institute for Corporate Governance Indonesia for its successful application of GCG. "This shows that there is no doubt about the application of GCG at Bank Niaga and also in connection with its human resources," said Heru, who was born in Tuban, East Java.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To ensure that the application of GCG is in accordance with what has been outlined, the first thing to do, he said, is to reach an agreement. "GCG is not inwardly oriented; it is outwardly oriented," he stressed. As a result, the goal of the application of GCG must refer to competition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He added, "GCG does not mean conformity, but it is well-directed and systematic steps that have been taken to make Bank Niaga more competitive and more sustainable in the market," he said. Therefore, GCG, he said, is related to the scope of strategy, product management and services, human resources management, risk management and internal control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After an agreement has been reached, it is time to build governance structure regarding the role and tasks of the supervisory board, the board of directors and executive commissioners. Transparency must also be fostered by regulating the mechanism on inter-institutional relationships internally and externally."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the end of the day, there will emerge a necessity to have a culture related to transparency, independence and accountability, which will develop with the passage of time, in line with the dynamics of the market," he noted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the past, he said by way of an example, the risk of each product was never revealed. Today, however, following developments in the business world, the market wants every product to contain information on its risk so that investors can learn which products are relatively safe and will be profitable."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obviously the banking industry is challenged to ensure that the quality of its GCG must always be improved," said Heru, who was formerly chairman of the Pension Fund of Bank Niaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is not surprising that Heru is very knowledgeable about GCG and Bank Niaga. He is a professional who began from the very bottom of the career ladder. Heru, who has one teenage daughter, first joined Bank Niaga in 1977 as a graduate of the bank's Executive Training Program. He worked in the loan collection department at the bank office in Roa Malaka, Kota. At the time Bank Niaga was just a small bank with six branches and some 600 employees. From there he moved to other departments.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the beginning of his career at Bank Niaga, Heru spent more time in the loan department and in the branch offices. Later he was promoted to become chief of corporate affairs, internal control and human resources divisions. But his most interesting experience in his almost 30 years at Bank Niaga has been as human resources manager, a position he has held for 10 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I find managing people has been most challenging during my career," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The challenge was especially big when Bank Niaga decided to transform its business portfolio from a bank originally concentrating on corporate clients to a bank increasingly focused on retail banking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is not easy to transform the mind-set of employees from a corporate banking focus to retail banking," he noted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckily, thanks to much training, education and other activities to improve the competence of personnel, the employees of Bank Niaga can now work anywhere they are stationed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru is also thankful for being able to have a long career at Bank Niaga. While many people move to other companies for better positions, Heru prefers to stay put. The reason is very simple."I find the atmosphere at Bank Niaga agrees with me," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a result, he has worked under four different owners. When he first joined the bank, Bank Niaga was owned by Julius Tahija, who jointly owned the bank with fellow founders Soedarpo Sastrosatomo and Idham. Then the bank was bought by entrepreneur Hasyim Djojohadikusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Later the ownership of the bank was handed over to the government, and in 2003 the bank was acquired by Bumiputera-Commerce Holdings Berhad (BCHB) of Malaysia, which controls 64.25 percent of the bank's shares. And Heru moved up the career ladder. All this has given him valuable experience and memories.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A lover of tennis and swimming, Heru has been active in student activities, especially hiking, since his student days at the University of Indonesia (UI). He was a member of UI's association of nature lovers Mapala UI. But these days he gets around on a large motorcycle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, I still have adventures in nature but using different facilities," he said. Once in a while he travels outside Jakarta with a small group of large motorcycle enthusiasts to enjoy the fresh air and take his mind off his daily routine. (Maulana Yudiman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Jakarta Post&lt;br /&gt;August 23, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-3126602110223869015?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/3126602110223869015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=3126602110223869015' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/3126602110223869015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/3126602110223869015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/when-public-trust-in-banking-industry.html' title='Finding HR Management Challenging'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R067cd8vJyI/AAAAAAAAAA0/47ujPjeZhL8/s72-c/DSCF2124.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-2727657160136808634</id><published>2007-11-28T03:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T00:20:25.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Article on The Jakarta Post'/><title type='text'>Togetherness is The Key</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R01a1t8vJvI/AAAAAAAAAAc/NZbYh-gYxkM/s1600-h/DSCF2516.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137862628813514482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 215px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" height="223" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R01a1t8vJvI/AAAAAAAAAAc/NZbYh-gYxkM/s320/DSCF2516.jpg" width="237" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;The soft-spoken president director and CEO of Bank NISP, Pramukti Surjaudaja, gives the impression of being a very serious man. But as everyone knows, first impressions can be deceiving, and every now and then Pramukti cracks a joke to lighten the mood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramukti comes across as a warm and modest person, especially when asked what formula he uses to ensure the success of Bank NISP. Thanks to him, the bank, originally just a minor bank in Bandung, has been transformed into a solid and well-reputed private bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NISP has won a number of awards nationally, regionally and internationally. It was named "Best Domestic Commercial Bank in Indonesia" by Hong Kong's Asiamoney magazine in 2002, named "Best Bank in Indonesia for 2003" by Euromoney Magazine and "Best Emerging Market Bank in Indonesia 2004" by Global Finance Magazine of New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramukti was awarded the Golden Trophy 2006 for "Excellent Performance for Five Consecutive Years" by InfoBank magazine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It cannot be denied that NISP was able to win all these awards thanks to Pramukti's capable hands in developing the bank so that its assets, worth only Rp 1 trillion in 1996, have ballooned to Rp 22 trillion in 2006. However, Pramukti is modest about the achievements.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"All this is the fruit of the hard work of all NISP stakeholders. This is a joint success, I'm not the only one responsible for this success," said Pramukti, who was named Best CEO 2004 by SWA Magazine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his opinion, managing a company means maintaining togetherness, especially in corporate culture matters. Company management means making an effort so that all employees and all stakeholders of the company will enjoy various benefits."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bank's management believes that if we can keep our staff happy in their jobs, it will result in business continuing to grow and our customers and investors will have peace of mind after depositing their funds at NISP," he stressed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In realizing this goal, Pramukti deems it necessary to involve all these elements in the creation of corporate values. About 1,000 employees are involved in this value creation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The creation of corporate values cannot be undertaken unilaterally, for example only by the board of directors. It must involve all employees because they will put the values into practice and enjoy the benefits," he noted. As a result, following the creation of the bank's values by the management and employees, NISP's program to develop its business has run as expected. In its 61 years of existence -- the bank was established in 1941 in Bandung -- NISP has overcome various obstacles, survived crises and developed into a leading domestic bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If Pramukti gives the impression of being modest, it is due to his upbringing. Born in Bandung on July 1, 1962, his family prioritized harmony in all aspects of life. Despite the fact that they owned NISP, Pramukti did not immediately get a top position at the bank. However, his father, Karmaka Surjaudaya, now president commissioner of NISP, started introducing Pramukti to the family business as a teenager. While still at school, Pramukti learned the principles of accountancy, bank management, customer service and everything about the banking business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After completing senior high school at St Aloysius, Bandung, he went to the United States to study finance and banking at the University of San Francisco, and earned an MBA degree from Golden Gate University in San Francisco. He also took a special program on international relations at the International University of Japan in Niigata, Japan. He also took several executive programs at MIT, Stanford University and France's Insead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramukti was keen on learning and now tries to inspire all his employees to be enthusiastic about learning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Pramukti joined NISP in 1987, he started in the marketing department and was appointed managing director in 1989. In April 1997 he was named president director and CEO of NISP, a position he still holds. He said there were a lot of joys and sorrows in running the bank, especially when his family decided to list the it on the capital market and thereby give up full ownership.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The family resorted to going public because it was one way to ensure the growth and development of the bank. Then NISP established a strategic alliance with the International Finance Corporation (IFC), a subsidiary of the World Bank, as IFC was interested in providing long-term financial support and being an NISP shareholder. An alliance was also forged with the Overseas Chinese Bank Corporation (OCBC) of Singapore, now the majority shareholder of NISP with a 72.29 percent stake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramukti says the family made the right decision in giving up full ownership of the bank, saying that this way the public gets more benefits. Today, NISP has 225 branches throughout the country and its employees, only about 900 people in 1996, now number about 4,000 people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite his tight schedule, Pramukti always finds time to tend to his aquarium fish, in which he finds pleasure. Once in a while, Pramukti, who has one daughter, goes to Bandung to visit his extended family. He also likes diving. "I feel totally different when I dive and enjoy the time away from routine activities," he said. He has visited most favorite diving sites, but has been unable to dive for a few years due to lack of time. (Maulana Yudiman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Jakarta Post&lt;br /&gt;November 08, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-2727657160136808634?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/2727657160136808634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=2727657160136808634' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/2727657160136808634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/2727657160136808634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/togetherness-is-key.html' title='Togetherness is The Key'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R01a1t8vJvI/AAAAAAAAAAc/NZbYh-gYxkM/s72-c/DSCF2516.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-444412909117111725</id><published>2007-11-28T00:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T00:20:25.344-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Article on The Jakarta Post'/><title type='text'>Creating Goliath ; Davids Helper</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R00mzN8vJtI/AAAAAAAAAAM/4JxaOdsdrAs/s1600-h/yoris_iymey.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137805411259197138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 246px; CURSOR: hand; HEIGHT: 265px" height="212" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R00mzN8vJtI/AAAAAAAAAAM/4JxaOdsdrAs/s320/yoris_iymey.jpg" width="215" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;In the Bible, the story of David and Goliath tells of a fight between an ordinary human being and a giant. Although Goliath was far stronger than David, David won the duel due to his cleverness. In the hands of Yoris Sebastian Nisiho, however, Goliath has become a collaboration project that will help many Davids grow into hit-selling musicians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the Goliath Project he is now preparing, Yoris is making his way toward further success following his successful "I Like Monday", a program at Hard Rock Caf‚ that he initiated 10 years ago. In this current project, Yoris is planning to mix various activities such as collaboration involving various musicians, workshops, the making of albums and the making of a musical database that can help businessmen in the music area to develop their businesses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoris, who represented Indonesia, presented his Goliath Project before the panel of judges at The International Young Music Entrepreneur of the Year (IYMEY 2006), organized by the British Council in London between late June and early July. "The preparation was short. The idea came up just before I had to leave for London," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although he went to London in an individual capacity, Yoris said he was quite proud because he represented Indonesia and had to compete against music practitioners from 10 countries with their respective superiority and uniqueness. Yoris devised the Goliath Project as a vehicle through which music can be developed on the basis of investment support from Goliaths.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Goliaths in Yoris' vision are rich young men aged a maximum of 35 years, those who have a lot of spare money who can use it helping Davids, who can be just about anyone in the music business, such as solo singers or local bands with great potential for future development. However, this investment must yield a profit for these Goliaths. "Besides reaping a profit, they can help new talents emerge in the music arena," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since his participation in IYMEY 2006, Yoris has become even more convinced that music is a highly promising business. He also believes that the creative industry, which includes the music industry, may contribute significantly to the state's coffers if it is run properly. In England, he said, the music industry is ranked second after the financial services industry in terms of contribution to the country's revenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What about Indonesia? There is still quite a long way to go before the music industry becomes a prime business sector here. Still, Yoris will consistently strive to build this industry in Indonesia. His interest in music can be summed up in just one word: passion. He has made up his mind to totally immerse himself in building a career for himself in the entertainment business. To focus on the entertainment business, he gave up his studies at the accounting department of Atma Jaya University in Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When he was a senior high school student, he joined a teenage magazine in Jakarta as a freelance worker in order to start developing his professional skills. He also initiated the organization of Pangudi Luhur Fair, a high school art festival capable of drawing in sponsorships worth up to hundreds of millions of rupiah. When he later decided to give up his university studies, he spent his time selling various things, ranging from advertisements on the launch of albums of new artists to consumer goods and sports products.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1993, he was offered the position of assistant advertising and promotions manager at Hard Rock Cafe (HRC) in Jakarta. He then devised a program to feature local bans in this cafe. Called "Local Sunday Band", this program presented, among others, Java Jive, Kahitna, Porotonema and rif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When he was entertainment manager of HRC, he made a new program called "Save Ragunan Zoo". He collaborated with Air Supply to collect funds for the renovation of Ragunan Zoo.  Yoris, who was born in Makassar, South Sulawesi on Aug. 5, 1972, is also very interested in technological development and has come up with an initiative for a video request program, which is relatively new in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For this program, he has adopted VDS (Video Distribution Center) technology, which will make it possible for the promotions of albums held at HRC in Jakarta and Bali to be screened at HRC in several other countries. The head office of HRC in the United States has given him the go-ahead for this program and Dewa will be the first Indonesian music group whose album promotion will be distributed through VDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hopefully, this effort will make our local artists known in the countries where HRC is found," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of all the programs that he has devised, the one Yoris is most proud of is "I Like Monday", a program featuring local bands and singers that has been held every Monday since 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoris, then advertising and promotions manager at HRC, wanted to introduce a breakthrough for his cafe every Monday, which is generally considered a slow business day because it is perceived that people are reluctant to go to cafes on the first day of the business week.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many artists that Yoris invited to perform in this Monday program have been happy to perform at HRC and HRC has made a good profit because the number of visitors on Mondays has become as big as, or sometimes even bigger than, on weekends.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although HRC is a franchised cafe with its own standards and management procedures, innovations and local touches are still needed to ensure that HRC is a big name in the entertainment business. In this respect, Yoris has successfully made HRC one of the most famous cafes in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to this success, on April 1, 1999, he was made general manager of HRC and, upon assuming this position, became the youngest general manager in HRC's Asia chain and the first local national to be appointed general manager.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the same time, he was also the second youngest general manager in HRC worldwide. Generally, the post of general manager goes to an expatriate, be he a U.S. or Singaporean national. As GM, Yoris has paved the way for Indonesian artists to perform at HRC in Singapore and Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Owing to his talented marketing skills, Yoris has been able to introduce a number of marketing breakthroughs, which is why he was presented the Young Marketer Award by IMA-Mars in 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He learned everything about marketing through self-study, said Yoris, who likes to read in his spare time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of his popular marketing and business concepts is "coopertition", a combination of cooperation and competition. While other people view cooperation and competition as two different things, Yoris believes that competition can be used as a means for cooperation so that something can be done for the benefit of all parties.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Under Yoris' leadership, HRC has also been named the Most Admired Company in Indonesia. This award shows Yoris' great capability in leading and managing HRC. While noted marketing expert Hermawan Kartajaya has popularized the principle of Marketing in Venus in terms of leadership, Yoris chooses to lead in the style of Management in Venus or, in his own words, a good-natured management style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The days when a boss could use force to command respect from employees are gone, he said. In his view it is not enough for a leader to merely demonstrate good and correct leadership because a good leader must also be wise and inspire his employees. "He must be firm, not stern," Yoris said. (Maulana Yudiman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Jakarta Post&lt;br /&gt;August 16, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-444412909117111725?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/444412909117111725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=444412909117111725' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/444412909117111725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/444412909117111725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/in-bible-story-of-david-and-goliath.html' title='Creating Goliath ; Davids Helper'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/R00mzN8vJtI/AAAAAAAAAAM/4JxaOdsdrAs/s72-c/yoris_iymey.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-34061667083462437</id><published>2007-11-28T00:08:00.000-08:00</published><updated>2007-11-28T00:13:37.981-08:00</updated><title type='text'>Pelajaran Kepemimpinan dari Bill Gates</title><content type='html'>William Henry Gates III atau lebih dikenal dengan Bill Gates membuat keputusan penting pada Senin, 5 Juni 2006 lalu. Dalam sebuah konfrensi pers di kantor pusat perusahan peranti lunak ini di Redmond Washington, salah seorang pendiri Microsoft Corporation ini mengumumkan pengunduran dirinya dari aktifitas operasional rutin Microsoft, yang akan berlaku efektif pada dua tahun mendatang. Setelah itu, Bill Gates akan memfokuskan aktifitas pada kegiatan filantropi melalui yayasan Bill &amp;amp; Melinda Gates yang didirikannya. Meski demikin, posisi sebagai Chairman (ketua) dan penasehat Microsoft tetap dipegangnya hingga waktu yang belum ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari pengumuman yang dibuat Gates ini. Boleh dikata, hal ini merupakan kelanjutan proses transisi yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pada Januari 2000, Bill Gates memilih menempati posisi baru sebagai Chief Software Architect (kepala arsitek perangkat lunak) dan menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan (CEO) kepada Steve Ballmer. Ini berarti Gates memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada sahabatnya ini untuk merestrukturisasi Microsoft, termasuk di dalamnya, pengelolaan keuangan, pemasaran produk Microsoft, pengembangan produk, penjualan, hingga perencanaan strategis, dengan gaya dan caranya sendiri, lepas dari pengaruh dan bayang-bayang Gates sang pendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu kesempatan wawancara dengan Majalah Fortune pada 2003 lalu, Gates mengaku bahwa pada saat itu, Ballmer telah menjadi orang nomor satu dan ia menjadi nomor dua. Meski Ballmer sebagai CEO telah melakukan berbagai perubahan terhadap perusahaan yang dulu dibangunnya bersama Paul Allen, Gates tidak terlalu memikirkannya, “Saya memiliki posisi yang kuat, dan saya juga memberi banyak rekomendasi hebat, tetapi sekarang keputusan ada pada Steve,” katanya merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesediaan Gates untuk mundur dari posisi orang nomor satu, meskipun ia adalah pendiri perusahaan, menjadi suatu catatan menarik dalam sejarah bisnis. Memang, Bill bukan satu-satunya pebisnis yang menempuh jalan ini. Biasanya para pendiri perusahaan, senantiasa berusaha agar kepemimpinan perusahaan terus berada dalam genggamannya, dan bila perlu, diteruskan hingga anak cucunya. Namun, jika dilihat lebih jauh, upaya Gates ini merupakan langkah strategis agar Microsoft terus tumbuh dan berkembang, tanpa embel-ebel Gates di belakangnya. Maklum, hingga saat ini, sulit melepaskan nama Gates dari Microsoft. Ibaratnya Bill Gates adalah Microsoft, dan Microsoft adalah Bill Gates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Gates ini membuat Steve Ballmer yang diserahi tugas memimpin perusahaan dengan karyawan berjumlah lebih dari 50 ribu orang di seluruh dunia saat itu, leluasa menjadikan Microsoft semakin mendunia. Dalam hal ini, keduanya ternyata memiliki chemistri yang cocok satu sama lain. Gates adalah pendiri cum visioner yang mengarahkan perusahaan ke masa depan, sedangkan Ballmer dinilai sebagai sosok pemimpin yang mumpuni dalam mengelola dan memimpin operasional perusahaan keseharian. Lebih menarik lagi, proses transisi ini berlangsung secara normal dan wajar. Sebelum didapuk sebagai CEO, Ballmer terlebih dahulu menempati posisi sebagai Presiden perusahaan selama satu setengah tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses peralihan manajemen ini dalam sekejap terlihat memberi keuntungan pada keduanya. Dengan Ballmer di posisi puncak, Gates lebih bisa berkonsentrasi pada pekerjaan yang paling disukainya, mengembangkan berbagai produk Microsoft. Sedangkan Ballmer, fokus pada pengembangan bisnis Microsoft. Sebagai Chairman, tentu saja Gates masih menjadi tokoh yang suaranya didengar dalam setiap keputusan yang dibuat perusahaan, namun Saat itu Gates menyumbang 65% dari seluruh waktu yang dimilikinya untuk pengembangan teknologi sesuai perannya sebagai kepala arsitek. (Fortune, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proses transisi pertama yang dilakukan pada Ballmer berjalan sukses, transisi kedua dijalankannya pada Kamis 19 Juni lalu dengan menunjuk Ray Ozzie untuk mengantikan posisinya sebagai Chief Software Architect. Selain itu, Microsoft juga menunjuk Craig Mundie sebagai kepala penelitian dan strategi. Posisi keduanya sangat strategis. Ray Ozzie yang menggantikan Gates akan bertanggung jawab pada keseluruhan arsitektur produk yang akan diluncurkan Microsoft beberapa waktu ke depan. Sedangkan Craig Mundie, akan memimpin penelitian dan merencananakan strategi perusahaan di masa depan. Namun keduanya tak akan langsung dilepas begitu saja. Saat menghadapi masa persiapan pensiun (MPP) ini, Bill akan menjadi ’mentor’ keduanya selama dua tahun, sebelum kemudian melepaskan peran dan tanggungjawabnya secara resmi pada Juli 2008 mendatang. Pernyataan Bill memperkuat hal ini, "Saya masih berkomitmen penuh dan akan bekerja penuh di Microsoft hingga Juli 2008 dan akan bekerja berdampingan dengan Ray dan Craig untuk memastikan transisi ini berjalan lancar," kata Gates. "Saya sangat yakin jalan untuk Microsoft ke depan tetap terang seperti sebelumnya," ungkap Bill dalam siaran pers yang dikeluarkan Microsoft..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan tidak ada gejolak berarti yang muncul akibat pengumuman ini. Harga saham Microsoft di bursa tetap stabil, para pegawai Microsoft di seluruh dunia menanggapi rencana pengunduran dirinya dengan tenang dan nyaris tanpa gejolak. Menanggapi penggantian ini sebagai suatu hal yang biasa dalam perjalanan dan perkembangan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates dan Microsoft sepertinya memang tak terpisahkan. Sebagai pendiri dan Chairman, boleh dikata Bill Gates adalah Microsoft, dan Microsoft adalah Bill Gates. Namun, kesan inilah yang nampaknya ingin dihapus Bill. Meski perusahaan yang didirikannya bersama Paul Allen pada tahun 1975 ini, dalam waktu yang tak terlalu lama telah tumbuh menjadi perusahaan teknologi terkemuka di dunia. Keberhasilan Microsoft mengantarkan para pendirinya menjadi manusia-manusia multi miliuner, dan juga mengantarkan Bill Gates sebagai manusia terkaya di dunia. Tapi begitulah, Gates sadar, bahwa kelanjutan Microsoft akan lebih baik jika berada tangan para profesional yang lebih memahami seluk beluk bisnis TI, terutama dalam mencermati dan mengantisipasi tuntutan yang semakin kompleks terhadap produk-produk Microsoft di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengusaha Filantropis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain keberhasilan dalam proses transisi kepemimpinan di Micrsoft, keberhasilan Gates yang lain yang kemudian menorehkan tita emas adalah perannya sebagai seorang filantropis. Dalam bisnis, Gates boleh dikenang para pesaing dan lawan-lawan bisnisnya sebagai seorang yang keras dan tanpa kompromi, namun sebagai seorang filantropis, Gates dikenang sebagai sosok paling dermawan sejagat. Majalah Time pada awal tahun lalu menobatkannya sebagai Person of the Year. Penghargaan yang diraihnya bersama istrinya Melinda, dan vokalis kelompok musik U2, Bono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekayaan yang dimilikinya, Majalah Forbes mencatat, Gates adalah manusia terkaya nomor satu di dunia dengan kekayaan sebesar U$ 50 miliar. Dengan kekayaannya yang dimilikinya ini, Gates tidak lantas menjadi manusia paling glamor sedunia. Ia tidak menggunakan kekayaan yang dimilikinya, seperti kelakuan para diktator Afrika, atau penguasa sekaligus pengusaha cleptomania Asia yang kemudian menghamburkannya dengan membeli properti mewah di Prancis dan Inggris, atau mengoleksi puluhan mobil mewah untuk kesenangan hidup. Gates memang memiliki rumah senilai US$ 100 juta di pinggir danau di Washington, tapi peran gates yang paling nyata ditorehkannya sebagai filantropis, melalui Bill &amp;amp; Melinda Gates Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui yayasan sosialnya ini, Gates bersama istrinya akan fokus pada persoalan kesehatan global, pendidikan dan pemberantasan kemiskinan. Majalah Time (Januari 2006), mencatat, dana yang disumbangkan Gates untuk aktifitas filantropisnya selama enam tahun terakhir mencapai angka US$ 29 milyar. Menjadikannya sebagai yayasan dengan sumbangan terbesar di dunia. Lewat aksi filantropisnya ini, Gates telah menolong 700 ribu orang di berbagai negara miskin melalui investasi dan dukungan penelitian di bidang vaksinasi kesehatan. Proyek pengembangan perpustakaan yang juga menjadi perhatian Bill dan Melinda telah memungkinkan akses internet dan komputer pada sekitar 11 ribu perpustakaan di Amerika Serikat. Sumbangan yang diberikan yayasan Bill &amp;amp; Melinda Gates, hampir sama dengan jumlah yang disalurkan lembaga kesehatan dunia WHO, setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya lagi, aksi filantropisnya ini berasal dari sumber yang jelas, yaitu kekayaan pribadi Gates yang sebesar US$ 50 miliar. Asal muasal kekayaannya ini, tidak didapat Gates dengan cara-cara tak halal alias korupsi, melainkan melalui penguasaan pasar atas bisnis berbasis teknologi yang dikuasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah Bill Gates dalam melakukan transformasi kepemimpinan, mungkin dapat menjadi contoh bagi para usahawan Indonesia. Kerelaannya untuk tidak terus menerus duduk di posisi nomor satu di perusahaan, dapat menjadi ukuran, bahwa aspek-aspek pengelolaan perusahaan dapat diserahkan kepada para profesional yang kompeten di bidangnya masing-masing. Para pendiri perusahaan, dapat terus menajamkan visi perusahaan ke masa depan, sembari menjalankan aktivitas sosial, berkiprah di bidang kemanusiaan. Mampukah para usahawan Indonesia melakukannya? semoga saja.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 06 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-34061667083462437?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/34061667083462437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=34061667083462437' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/34061667083462437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/34061667083462437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/pelajaran-kepemimpinan-dari-bill-gates.html' title='Pelajaran Kepemimpinan dari Bill Gates'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-1213412051077439312</id><published>2007-11-27T23:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-29T04:38:20.154-08:00</updated><title type='text'>Kisah Sebuah Kompi Tentara Pada Perang Dunia Kedua</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : &lt;strong&gt;The Band Of Brothers (Ikatan Persaudaraan) Kompi E, Resimen 506, Lintas Udara 101 Dari Pantai Normandia Ke Sarang Elang Hitler. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengarang : Stephen E. Ambrose&lt;br /&gt;Penerjemah : A. Rahman Zainudin&lt;br /&gt;Penerbit : Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Kedubes AS di Indonesia&lt;br /&gt;Tebal : 427 halaman ditambah indeks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang senantiasa menimbulkan kesedihan, malapetaka dan kehancuran. Sudah tak terhitung banyaknya penderitaan dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh perang kepada umat manusia. Namun, perang juga memberi nuansa lain pada sekelompok manusia yang menjadi pelakunya. Mereka yang terseret oleh putaran nasib dan roda sejarah, yang menjadikan mereka pembunuh manusia lain. Kebersamaan, kesedihan dan kegembiraan yang dirasakan saat perang, memunculkan ikatan persaudaraan yang kokoh. Ikatan persaudaraan ini tertanam dalam di dalam diri mereka , dan melekat tak hanya ketika perang masih berkecamuk, namun terus berlanjut sepanjang hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang kokohnya ikatan persaudaraan itulah yang disampaikan oleh Stephen E. Ambrose lewat buku Band of Brothers (Ikatan Persaudaraan), Kompi E Resimen 506, Lintas Udara 101: Dari Normandia ke Sarang Elang Hitler. Selain mengisahkan kuatnya ikatan persaudaraan diantara anggota Kompi Easy, buku ini juga menggambarkan perjalanan Kompi Easy sebagai bagian dari Resimen 506 Angkatan Darat Amerika Serikat pada Perang Dunia II sejak pembentukan hingga pembubarannya. Buku ini juga mengisahkan suka duka para anggota Kompi Easy saat bertugas di medan pertempuran, hingga karir dan kehidupan mereka setelah perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band of Brothers, juga telah menginspirasi sutradara dan produser film Steven Spielberg dan Tom Hanks, untuk menjadikannya sebuah mini seri, yang kemudian diputar di saluran TV berbayar HBO pada musim 2001 – 2002. Mini seri ini juga meraih beberapa penghargaan EMMY dan Golden Globe (2002), untuk beberapa kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelajaran Kepemimpinan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kuatnya ikatan persaudaraan diantara sesama anggota Kompi Easy, telah tertanam sejak pertama kali mereka menghadapi musuh bersama, yang ironisnya bukan pasukan Jerman di medan pertempuran Eropa, melainkan komandan kompi mereka sendiri Kapten Herbert M. Sobel. Seorang yahudi yang penugasannya di Kompe Easy datang dari garda nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobel adalah seorang komandan yang memimpin Kompi Easy dengan keras dan bertindak laksana seorang tiran. Sikap kerasnya ini dilandasi keinginan yang kuat untuk menjadikan kompi yang dipimpinnya sebagai kompi terbaik diantara kompi lain yang ada di Divisi 101 Resimen 506 Angkatan Darat AS. Sebagai manifestasi dari tekadnya itu, Sobel selalu memerintahkan kompi Easy berlatih lebih lama, dengan porsi latihan lebih banyak dan lebih keras dibanding kompi yang lain. Sikap inilah yang memicu kebencian dan perasaan dendam para prajurit yang dipimpinnya, dan kelak memunculkan pemberontakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap keras Sobel dalam memimpin ditunjukan dengan cara-cara yang kurang terpuji dan kerap merendahkan harkat dan martabat para anak buahnya. Sobel sangat mudah menjatuhkan hukuman kepada para prajurit yang dinilainya lemah saat menjalani latihan fisik, dengan teriakan berulang yang menjadi ciri khasnya, “Jepang akan menangkapmu,” Ia juga selalu memastikan bahwa botol minum para prajurit tetap terisi penuh, meski mereka telah menjalankan aktifitas fisik yang menguras tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap akhir, pekan, Sobel akan mendakwa beberapa orang dari pasukannya karena beberapa pelanggaran spele yang dicari-cari dan mencabut hak para prajurit yang sial itu untuk beribur akhir pekan. Ia juga menetapkan waktu kembali dari liburan secara ketat. Seorang prajurit yang terlambat kembali ke barak, akan mendapatkan hukuman di Sabtu pekan berikutnya. Hukumannya adalah menggali lubang ukuran 6 x 6 x 6 kaki, yang bila telah selesai, Sobel akan memerintahkan si prajurit terhukum untuk mengubur lubang itu hingga penuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kepemimpinan Letnan (kemudian naik pangkat menjadi kapten) Sobel bertolak belakang dengan Perwira Eksekutifnya Letnan Richard “Dick” Winters. Kebencian Sobel pada Winters bermula ketika Komandan Divisi Kolonel Robert Sink memberikan apresiasi kepada Winters saat memimpin latihan fisik kompi Easy. Winters yang kemudian mendapat promosi kenaikan pangkat, dinilai Sobel sebagai ancaman bagi kelangsungan karirnya. Segera saja, perseteruan antara komandan kompi dan perwira stafnya ini menjadi terbuka. Sebagai Komandan Kompi, Sobel kerap merendahkan Winters dengan memberinya pekerjaan-pekerjaan yang tidak seharusnya dikerjakan oleh seorang perwira eksekutif, seperti memeriksa kakus para prajurit dan memastikan kebersihannya. Puncak perseteruan Sobel dan Winters terjadi saat Sobel mengajukan perwira eksekutifnya ini ke sidang peradilan militer karena dinilai lalai dalam menjalankan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja sebagai Komandan Kompi Sobel mampu menjalankan tugasnya dengan baik, ia mungkin akan mendapatkan respek dari anak buahnya. Hanya saja, Kepemimpinan Sobel yang keras, kaku dan tiran, tidak dukung kemampuannya dalam taktik dan strategi militer. Ia tidak mampu membaca peta, dan seringkali salah saat mengambil keputusaan penting dalam latihan perang. Seorang anak buahnya bersumpah, bahwa ia tidak akan pernah mau dipimpin oleh Sobel di medan perang yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan para prajurit terhadap kepemimpinan Sobel mencapai puncaknya, saat para Noncomissioned Officer (NCO) atau para bintara dan tantama, mengajukan mosi tidak percaya dan ketidaksediaan berperang di bawah kepemimpinan Sobel. Kolenel Sink yang kaget dengan adanya krisis kepemimpinan di Kompi Easy, kemudian menemukan jalan keluar dengan menempatkan Sobel sebagai Pimpinan Sekolah untuk para penerjun yang baru saja dibuka. Meksi demikian, ia tetap menjatuhkan hukuman penurunan pangkat kepada para bintara dan tantama yang memberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan Kompy Easy&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditinggalkan Sobel, Kompi Easy kemudian dipimpin Letnan Satu Thomas Mehaan. Pesawat yang ditumpangi Mehaan jatuh tertembak saat penerjuan pada hari H di Normandia, membuat Mehaan tidak pernah kembali ke pasukannya. Secara de facto, Winters kemudian mengambil alih kepemimpinan Kompi Easy. Dibawah Winters, Kompi Easy menjadi sebuah kompi tentara yang sesungguhnya. Bahkan karena kepemimpinannya, Kompi Easy kemudian dikenal sebagai Kompi Winters. Karir Winters sendiri naik dengan cepat, hingga ia kemudian dipercaya menjadi Komandan Batalion dengan pangkat Mayor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses Kompi Easy dibawah komando Winters dimulai saat mereka diperintahkan untuk menghancurkan sepasukan meriam Jerman yang menghalangi pergerakan pasukan sekutu dari lokasi pendaratan di Pantai Utah Normandia ke pedalaman. Memimpin 12 orang prajurit, Winters mampu melaksanakan tugas ini dengan baik dan melumpuhkan kekuatan tentara Jerman. Perjalanan Kompi Easy, kemudian berlanjut saat merebut Carentan. Diteruskan saat Bertahan dalam cuaca yang sangat buruk, dengan perlengkapan dan amunisi minim menghadapi ancaman serbuan artileri Jerman di Bastogne, menjalankan operasi “Market Garden” yang gagal, merebut kota Eindhoven, bertarung sengit dalam “Battle of Foy”, hingga menjadi kompi pertama yang mencapai Sarang “Elang, tempat” tetirah Hitler yang terletak di puncak gunung di Austria. Selama itu, Kompi Easy telah mengalami beberapa kali pergantian komandan, sejak Sobel, Mehaan, Winters, Norman Dike, Speirs hingga kemudian Divisi 101 dinonatiaktifkan, dan Kompi Easy dinyatakan tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Orang Kecil &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis Ambrose ini merupakan sebuah karya sejarah. Tak perlu disangsikan lagi, karena Amborse adalah seorang sejarawan. Pensiunan guru besar Boyd dalam Ilmu Sejarah, ini juga menjadi Direktur Eishenhower Centre di New Orleans, dan pendiri museum National D-Day. Ambrose telah menulis beberapa buku terkait perang dunia dunia, diantara D-Day, dan Citizen Soldiers (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Sukarela) dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini pada awalnya merupakan proyek penulisan Sejarah Lisan (sejarah yang ditulis berdasarkan kesaksian lisan para pelaku peristiwa yang umumnya masih hidup), tentang salah satu aspek dalam Perang Dunia kedua. Untuk proyek penulisan buku ini, Ambrose telah melakukan serangkaian wawancara baik yang bersifat kelompok maupun individu kepada para mantan anggota Kompi Easy. Ia bahkan mengunjungi beberapa lokasi ditemani para veteran Kompi Easy, untuk mengecek keakuratan data, dan sebelum menerbitkannya sebagai buku, menyerahkan manuskrip penulisan buku ini, untuk mendapatkan masukan dan kritik dari narasumber yang diwawancarainya. Ia juga melengkapi risetnya dengan catatan harian Kompi, dan catatan harian para prajurit, dan kumpulan surat-surat pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sejarah yang ditulis Ambrose adalah sejarah orang kecil. Seperti pengakuannya sendiri dalam pengantar buku ini, alih-alih menulis tentang kebesaran Jenderal Dwight “Ike” Einshenhower yang menjadi Pemimpin Tertinggi Pasukan Sekutu di medan perang Eropa, atau kisah tentang Jenderal besar lain dalam PD II seperti Nelson Omar Bradley, George Marshal atau Montgemary, Embrose lebih merasa tertarik dan memusatkan perhatian pada sebuah kompi infranti ringan yang cukup menonjol, serta menulis tentang kepribadian dan tindakan orang-orangnya. Ia mengaku, boleh jadi ia dan pembaca akan merasa bosan jika kembali disuguhi tentang kiprah para jenderal tadi, Meski tidak bisa dipungkiri, karir kepenulisannya dimulai dengan tulisan tentang Sejarah “orang-orang besar”. Ambrose, adalah peneliti dan penulis karir politik Presiden Einsehower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disyaratkan oleh mazhab Sejarah Orang Kecil, dalam pandangan Ambrose, para pahlawan perang dunia II sejatinya adalah para anggota Kompi Easy itu. Prajurit Talbert, Sersan Carwood Lipton, Kopral Frank Talbert, Sersan George Luz, Prajurit Perkonte, Prajurit Babe Hefron, Sersan Joe Toye, yang mungkin tidak cukup dikenang jasa-jasanya, sebagaimana halnya orang mengenang Einsenhower, Bradley, Marshal, Patton atau Montgemary dan segala kebesaran yang melekat pada mereka. Melalui buku ini, Embrose ingin menghadirkan sisi lain dari para prajurit, tantama, dan bintara yang menjadi pelaku langsung perang dunia kedua, dengan meminjam kenangan pribadi mereka, menuliskannya, dan kemudian meneruskannya kepada para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, buku ini baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 15 tahun setelah edisi aslinya terbit, dan miniserinya telah cukup lama ditayangkan di saluran TV berbayar HBO. Buku ini juga memiliki kekurangan terutama dalam penerjemahan, keterangan foto, dan kesalahan tipologi yang cukup mengganggu kenyamanan membaca. Selain itu, seperti halnya “Tentara Sukarela”, penerbitannya yang disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika, juga menimbulkan sedikit pertanyaan. Apakah penerbitan buku ini menjadi semacam “legitimasi” atas invasi militer Amerika Serikat di Irak, yang hingga saat ini tak kunjung berakhir? Semoga saja bukan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-1213412051077439312?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/1213412051077439312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=1213412051077439312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/1213412051077439312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/1213412051077439312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/kisah-sebuah-kompi-tentara-pada-perang.html' title='Kisah Sebuah Kompi Tentara Pada Perang Dunia Kedua'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-8510288642417905035</id><published>2007-11-22T20:40:00.000-08:00</published><updated>2007-11-29T19:29:31.903-08:00</updated><title type='text'>Adi J. Rusli ; Leading and Living Harmoniously</title><content type='html'>To live in harmony even while you're working hard, you must set aside time for brief breaks, and enjoy life. Adi Juwono Rusli, managing director of PT Oracle Indonesia, abides by this principle of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even though he prioritizes harmony, Adi traveled a long road before reaching his present position.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While he was a third-year student in the electrical engineering department of Diponegoro University in Semarang, Central Java, he worked as a programmer at a small software company owned by his older brother. There he sharpened his professional skills.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After graduating in 1990, he worked at Astra Federal Motor as a business analyst. He stayed at the company, which is a subsidiary of PT Astra International, for just two years. He then moved to an Australian company, PT Mincom Indo-Service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mincom supplies various software packages, ranging from Human Resources Management applications to Information Management Systems for giant companies. He spent two years at Mincom on various assignments, ranging from managing information technology services at client companies to undertaking help-desk activities at Mincom's office in Jakarta. After working for Mincom for three years, Adi was offered a job by a Singaporean headhunter as support manager at Oracle. In April 1995, Adi, who was born in Pekalongan on July 22, 1967, decided to take up the offer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was interested in joining Oracle not merely because of the managerial post, but also because he had been offered a chance to establish a new division.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I saw here an opportunity to broaden my horizons and enrich my knowledge," Adi said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his 10-year career at Oracle, Adi has notched achievements in various areas, for which he has been rewarded with promotions. After successfully handling the support division, he was promoted to support director and asked to handle the educational and consulting service areas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was then that he introduced many innovative ideas, such as the establishment of Oracle Initiative Academic, which is a cooperation scheme between Oracle and several universities in Indonesia. Under the scheme, these universities include programming based on Oracle applications in their curricula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After having done enough in the educational area, he was named sales director of the company. One of his new tasks was to sell Oracle's various technologies and information technology-based services to companies such as communications and media firms, utility companies (CMU), financial services institutions (FSI), manufacturers, retailers and distributors (MRD), government offices and companies dealing in education and health matters. He held the position of sales director for a year and then was named deputy managing director. On June 1, 2004 he was appointed the company's managing director.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a managing director Adi has faced more complex challenges. He is responsible for the management of PT Oracle Indonesia in various areas, including the sale of license applications, the development of business and technological applications, the development of business channels and alliances, support services, and the establishment of Oracle University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has been a chance, however, for Adi to demonstrate his management skills, technological abilities and his experience in commercial management combine to shape his abilities as the leader of Oracle Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"More important, we must think about how to develop Oracle Indonesia in line with the vision that has been outlined," he said, referring to the vision of making Oracle the most respected company in the business sector it serves by 2010. "It's not just a matter of increasing our revenues. We must also enhance Oracle's superiority among its competitors," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Currently Oracle is a market leader in Indonesia and in the world in database applications and also in so-called middleware, or software that enables two or more applications to interact. This superiority is in terms of sales volume, not in terms of revenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To reach this goal and to carry out his daily activities as managing director of the company, Adi has introduced a leadership principle called MR VIP, in which M stands for Motivational leader, R for Responsible, V for Vision, I for Integrity and P for Persistence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A motivational leader, he said, must be able to serve as a role model for his or her entire staff. The leader must also stay oriented to the company's goals by maintaining the motivation and moral integrity of all employees. The word "responsible" means employees must always be responsible for both their successes and their failures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As for vision, this reminds everybody in the company to look forward and strive to fulfill the plan that the company has laid out. As far as integrity, he continued, that means all employees do their jobs with propriety. "It is doing the right things, and not just doing things right," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, persistence, he said, refers to an effort to complete every assignment. It requires a fighting spirit and great patience, born out of a conviction that what you do will produce optimal results.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, Adi has formulated organizational values to support each step taken by his employees in fulfilling their assignments. These principles include trust, integrity, respect, innovation, a focus on the customer, a values-creating organization, and fun and happiness. In terms of values Adi said he wants all his employees not only to work hard but also to enjoy their lives. That's why he allows his employees broad access to various activities that bring enjoyment to their lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi said he is grateful to God that the leadership model he implements has succeeded and has strengthened his relationships with employees and customers. He said the openness he has worked to develop enables employees to communicate with him easily and directly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oracle customers have become more open now and find it easier to lodge complaints or express their appreciation when using the products that Oracle offers," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Jakarta Post, 24 May 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-8510288642417905035?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/8510288642417905035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=8510288642417905035' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/8510288642417905035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/8510288642417905035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/adi-j-rusli-leading-and-living.html' title='Adi J. Rusli ; Leading and Living Harmoniously'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-3835828330610955108</id><published>2007-11-22T20:33:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T20:36:43.628-08:00</updated><title type='text'>Mengenang Rusdi Jeung Misnem</title><content type='html'>&lt;em&gt;Rusdi ku Ramlan dtungtun,&lt;br /&gt;Dikaleng diajak balik,&lt;br /&gt;diupahan ku tiluan,&lt;br /&gt;Ku Ramlan paman jeung bibi,&lt;br /&gt;Dipapaler dibubungah,&lt;br /&gt;ulah nyantel kanubalik&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sepenggal bait pupuh Kinanti yang menjadi penutup kisah Rudi jeung Misnem. Pupuh Kinanti ini melengkapi kisah Rusdi Jeung Misnem dalam bagian panoengtoengan (terakhir) yang menceritakan perpisahan Rusdi dengan keluarganya. Rusdi diceritakan harus bersekolah di kota mengikuti jejak kakaknya Ramlan, agar kelak menjadi orang yang pintar. Kenyataan ini membuatnya harus berpisah dengan Bapaknya (Pa Rusdi), Ema, serta Misnem, adik perempuan satu-satunya, yang akan kembali ke desa. Bagian ini juga menggambarkan suasana sedih yang menghinggapi keluarga kecil itu. Diceritakan tentang Rusdi yang berjalan kesana kemari, sebentar dengan Bapaknya, tapi tak lama kemudian ia memilih berjalan bersama Ibunya. Namun, perilakunya ini tak membuat marah Ibunya yang juga merasa susah dan sedih karena akan berpisah dengan anak laki-laki yang disayanginya. Terbayang dalam pikirannya, kesusahan yang harus dihadapi anak laki-lakinya ini karena hidup terpisah dengan kedua orangtuanya. Ketika kereta yang akan membawa kembali keluarga ini kembali ke desa, Pa Rusdi sembari menahan sedih, menasehati anak laki-lakinya itu untuk rajin belajar dan selalu mengikuti perintah guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelengkap Bacaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, buku Rusdi jeung Misnem membawa pembacanya, ke dalam suasana penuh haru saat Rusdi harus berpisah dengan keluarganya, maupun riang gembira saat Rusdi dan Misnem menjalani keseharian mereka. Semuanya mengalir dalam suatu jalinan cerita yang mengasyikkan. Menjadikannya sebuah mahakarya. Sastrawan Ajip Rosidi dalam buku Dur Panjak (Bandung, Pusaka Sunda, 1966) mengaku tidak akan ragu-ragu untuk menyebut buku Rusdi Jeung Misnem sebagai buku yang paling bagus dan paling menarik untuk dibaca oleh anak-anak di sekolah dasar. Ajip tentu melontarkan hal ini bukan tanpa alasan. Buku Rusdi Jeung Misnem memang ditujukan sebagai pelengkap bacaan anak-anak di sakola handap (Sekolah Dasar) dan sakola-sakola desa agar anak-anak dapat membaca. Namun, karya ini sebenarnya dapat dinikmati oleh beragam kalangan. Bahkan di masa sekarang dimana penggunaan bahasa Sunda terutama Sunda buhun sudah tidak lagi mendapat tempat karena tergeser arus globalisasi. Buku ini mungkin bisa dibaca para aki dan nini, sebagai pelipur rasa rindu pada khasanah dan budaya sunda di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Rusdi jeung Misnem diperkirakan terbit pada tahun 1913. Namun tahun penerbitannya pada cetakan pertama, dan kedua buku ini, sebenarnya tidak pernah secara resmi tertulis. Angka 1913, muncul dalam katalog buku ini yang tersimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta. Buku ini terdiri dari empat jilid dan ditulis oleh A.C. Deenik dan R. Djajadiredja, dilengkapi dengan gambar karya W.K.de Bruin. Dalam pengantar buku ini disebutkan, kedua penulisnya mendapatkan bantuan dari Mas Moehammad Rais, seorang guru sunda di Kweekschool voor Onderwijzers te Bandoeng yang memeriksa dan memperbaiki kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Rusdi jeung Misnem diawali dengan cerita tentang sosok Rusdi yang oleh pengarangnya diberi nama panggilan lain sebagai Ujang Gembru (anak laki-laki gendut). Visualisasinya semakin lengkap karena de Bruin juga menampilkan sosok Rusdi dalam gambar, dengan pakaian yang dikenakan anak-anak Sunda saat itu, seperti baju yang tak berkancing, celana longgar dan totopong (secarik kain yang diikatkan di kepala). Buku ini juga memperkenalkan sosok Misnem adik perempuan Rusdi, deskripsi rumah mereka yang berada di pinggir sebuah sungai, tentang tamu yang datang berkunjung, tentang kucing peliharaan Rusdi, dan kejadian keseharian lainnya yang dialami Rusdi, Misnem dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan buku-buku pelengkap bacaan yang terbit sesudahnya, Rusdi jeung Misnem terasa lebih membumi karena bercerita tentang keseharian sebuah keluarga Sunda dari golongan cacah (masyarakat biasa/kebanyakan). Meski dalam salah satu bagian, dijelaskan bahwa Pa Rusdi adalah lurah yang sekali waktu memimpin rombongan desanya mengunjungi kecamatan, menghadiri undangan juragan Camat yang akan menggelar hajatan. Bandingkan misalnya dengan tokoh yang diceritakan dalam buku Gandasari, Sumber Arum maupun Panggelar Budi, yang juga memiliki fungsi sama sebagai pelengkap bacaan untuk anak-anak sekolah dasar. Namun ketiga buku ini menurut Ajip terlihat lebih menonjolkan pola pikir yang mengarahkan anak untuk berperilaku baik dan terpuji. Dimana digambarkan, tokoh Jang Eman, maupun Jang Sasmita merupakan putra menak (bangsawan) Sunda. Mereka juga berperilaku bageur, bener, serta menurut pada kedua orang tua. Intinya, menjadi sosok anak ideal yang diharapkan banyak orang tua. Berbeda dengan Rusdi, yang sering berperilaku layaknya anak-anak. Kehidupan kesehariannya digambarkan sebagai kehidupan anak-anak kebanyakan, yang menjalani masa kanak-kanaknya dengan riang gembira dan dengan segala kenakalannya. Ketiga buku yang disebut terakhir memang terkesan mengarahkan anak-anak pembacanya untuk berperilaku sesuai aturan dan norma (feodal) yang berlaku saat itu. Bahkan, kelakuan anak seperti Rusdi dalam cerita Gandasari maupun Sumber Arum, disebutkan sebagai anak nakal yang tidak sepatutnya dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buku Bacaan Sunda Setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pustaka berbahasa Sunda untuk anak-anak sebenarnya cukup banyak dan beragam. Setelah era Rusdi jeung Misnem, Selain Gandasari, Sumber Arum dan Taman Pamekar, beberapa sastrawan sunda telah menulis beberapa buku bacaan anak yang kemudian terbit dan mengisi khasanah pustaka sunda untuk anak-anak pada zamannya masing-masing. Diantaranya adalah Samsudi yang melahirkan beberapa karya diantaranya Carita Budak Teuneung, Carita Budak Minggat, dan Carita Si Dirun. Samsudi kemudian diabadikan sebagai nama penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Rancage untuk penulis buku anak berbahasa sunda terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era yang lebih modern, Akub Sumarna menulis kisah Si Leungli, sekitar tahun 1970 an. Kemudian, di era kontemporer, Aan Merdeka Permana menulis Riwayat si Bedegong. Namun sayang keberadaan buku-buku tersebut sekarang ini sukar diperoleh. Bahkan sulit rasanya mendapatkan buku-buku bacaan anak berbahasa sunda yang baik, di toko-toko buku terkemuka. Beberapa peminat buku memang masih ada yang aktif mencari dan menjadikan buku bacaan anak berbahasa sunda sebagai koleksi. Sedangkan anak-anak di kota-kota besar di Jawa Barat sekarang ini harus menerima kenyataan, tak lagi memperoleh bacaan sunda bermutu seperti yang dialami oleh generasi kakek nenek mereka. Pengaruh modernisasi, dan globalisasi melalui TV dan media lain yang menderas masuk menyerbu rumah-rumah keluarga sunda telah sedikit demi sedikit menghilangkan kenikmatan itu. Para orang tua juga banyak yang mengambil langkah praktis dengan memilih buku-buku cerita rakyat dari daerah lain yang sudah menasional, atau cerita impor seperti karya-karya HC Andersen, serial Disney atau Barbie, karena itulah yang tersedia di hadapan mereka. Wajar jika sekarang ini, anak-anak di Jawa Barat menjadi terasing dan tak banyak mengenal buku-buku bacaan berbahasa Sunda. Mungkin seperti ini jawaban yang dilontarkan mereka saat ditanya. “Rusdi jeung Misnem? Mereka itu siapa?” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terimakasih kepada Neng Pupi dan Ua Sas yang memberi banyak masukan untuk tulisan ini&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-3835828330610955108?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/3835828330610955108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=3835828330610955108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/3835828330610955108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/3835828330610955108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2007/11/mengenang-rusdi-jeung-misnem.html' title='Mengenang Rusdi Jeung Misnem'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-115603482243578400</id><published>2006-08-19T17:36:00.000-07:00</published><updated>2006-08-19T17:52:33.650-07:00</updated><title type='text'>Infotainment: Rabun Jauh Industri Media</title><content type='html'>Menyimak wacana tentang halal - haram infotainment, saya kutipkan tulisan wartawan senior Farid Gaban yang dimuat di Koran Tempo, edisi Minggu 29 Agustus 2004&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infotainment: Rabun Jauh Industri Media&lt;br /&gt;"Soft journalism" – musuh bisnis, musuh demokrasi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid Gaban -- Pena News Service &amp; Syndicate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kita peduli pada siapa suami berikut NickyAstria atau Wulan Guritno? Bagaimana Ray Sahetapi atau Parto bertemu istri kedua? Apa merek mobil terbaru Kris Dayanti atau berapa nomor kutang Sarah Azhari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang nampaknya merasa menjadi kuno jika tidak mengikuti berita tentang para selebriti hingga kesudut hidupnya yang paling pribadi. Acara infotainment di televisi banyak digemari, mencatat rating tinggi, mendatangkan banyak iklan--dan memperkaya pemilik televisi dalam prosesnya. Tak heran jika seperti candu, berkah infotainment mendorong televisi mengeksploitasinya hingga ke dosis memabukkan dan menjamah wilayah pribadi yang paling jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada insentif bagi wartawan infotainment untuk menciptakan bintang. Dan lebih besar lagi insentif bagi mereka untuk memanen apa yang sudah mereka tanam: kehidupan pribadi para bintang. Semuanya terjadi dalamspiral aksi-reaksi menuju klimaks sampai kita menemukan fakta yang begitu absurd: pelawak Parto merasa perlu meletuskan tembakan peringatan karenamerasa diteror kejaran wartawan infotainment--wartawan yang pada sisi lain berjasa melambungkan orang sepertidia masuk ke status sosial tinggi dalam feodalisme baru di zaman televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini ada 11 stasiun televisi swasta yangbersaing menembakkan rudal tayangan infotainment kerumah-rumah kita. Sebut saja acara Cek &amp;amp; Ricek (RCTI),Kiss (Indosiar), Hot Shot (SCTV), Cuci Mata (TV7),Insert (TransTV) dan Selebriti Update (TPI). Sepertidikutip Majalah Gatra belum lama ini, Ilham Bintang,salah satu pionir infotainment Cek &amp;amp; Ricek,memperkirakan setidaknya ada 45 mata acara sejenis iniyang mencaplok lebih dari 100 jam tayang di seluruh televisi setiap pekannya—-durasi yang lebih panjang dari segmen berita pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak tak mau ketinggalan. Di samping muncul majalah dan koran hiburan baru, media dari kelas yangsudah mapan pun mulai memperluas rubrik selebriti.Alasan yang sering dikemukakan untuk membenarkan trend ini adalah publik menyukainya (dan bukankah tugas media melayani publik?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebenarnya ada alasan yang sangat jelas, meski cenderung disembunyikan: uang. Pemilik televisi rinduakan rating yang identik dengan masuknya iklan,sementara media cetak kian tersudut oleh betapaefektifnya pesaing dari media elektronik menggerogotipemasang iklan tradisionalnya. Pemilik media juga pekaterhadap ongkos liputan yang mahal, sementarainfotainment bisa diproduksi sangat murah dengankualitas liputan yang longgar dan dilakukan olehwartawan yang tidak paham (atau tidak peduli) padakode etik jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parto atau Nicky Astria mungkin layak memperoleh simpati sebagai korban agresi wartawan infotainment yang mencabik privasi mereka. Tapi, korban sebenarnya dari obsesi media terhadap infotainment adalah publik,pemirsa dan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabuk infotainment sekarang ini menyorongkan setidaknya dua pertanyaan penting: Benarkah infotainment akan menyelamatkan media secara bisnis,terutama dalam jangka panjang? Apa harga sosial yangharus dibayar oleh publik untuk memuaskan keuntungan pemilik media?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi industri media di Indonesia seperti ini sebenarnya tidak unik. Dalam dua tahun ini kitasebenarnya sedang meniru trend yang sudah berlangsung dalam industri media di Amerika selama dua dasawars aterakhir. Dipicu ketatnya persaingan serta dihadapkan fakta menurunnya jumlah pembaca dan pemirsa secaratotal, media di Amerika mengadopsi secara masif resepbaru: infotainment, berita sensasional selebriti, tayangan mistis, paranormal, reality show, dan dosis tinggi berita kriminal—-persis seperti yang sedang terjadi di sini.&lt;br /&gt;Tapi, mereka yang beranggapan semua itu merupakan resep mujarab keberlangsungan hidup industri media nampaknya perlu melihat studi serius yang dilakukan Thomas Patterson, seorang profesor media dan politikdari Universitas Harvard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patterson mengkaji 5.000 berita dari dua jaringan televisi, tiga koran nasional utama dan 26 koran lokal selama 20 tahun terakhir (1980-2000), serta memilah berita itu dalam dua kategori: "hard news" (berita keras tentang politik, kebijakan publik, perilakupejabat serta bencana dan tragedi) dan "soft news"(berita selebritis, kriminal dan mistis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Patterson menemukan peningkatan secara drastis sajian "soft news", dari hanya 35% pada1980-an menjadi 50% pada peralihan abad ini. Pada saat yang sama, Patterson menemukan bahwa obsesi media kepada "soft news" justru telah menggerogoti makin jauh minat orang pada berita secara keseluruhan.Lebih banyak orang, menurut studi itu, justru sesungguhnya menginginkan berita yang mengandung "kepentingan publik" -jumlah mereka naik dari 24% pada1980-an menjadi 63% pada 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini juga menunjukkan bahwa sekitar 50% orang yang menyukai liputan publik punya kecenderungan paling loyal terhadap segmen berita, namun sekaligus paling kecewa dengan trend pemberitaan media-massayang didominasi infotainment. Dengan kata lain, "softjournalism" sebenarnya sedang mengerogoti kredibilitas total media sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Patterson menunjukkan dengan telak betapa media telah serampangan mendifinisikan apa yang dimau publik, lebih khusus lagi tentang apa yang berguna untuk publik. Riset pemasaran yang menunjukkan besarnya antusiasme orang terhadap infotainment mungkin benar, tapi itu hanya bersifat jangka pendek. Dalam jangka panjang, menurut Patterson, media sedang mengebiri minat orang terhadap berita secara keseluruhan—-padahal berita adalah salah satu alasan terpenting kenapa media hidup dan layak disebut pilar keempat demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita bermutu yang dihasilkan oleh "hard journalism"secara tradisional dipandang sangat penting bagi demokrasi yang sehat: warga negara memahami persoalandan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan. "Softjournalism" sebaliknya mengalihkan perhatian orang dari persoalan publik yang esensial, dan meneruskan trend depolitisiasi secara massif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis laporannya dengan judul The American Democracy(McGraw-Hill, 2001), Patterson menyimpulkan bahwa infotainment telah memperlemah kualitas demokrasi Amerika. Kesimpulan itu mendukung tesis Paul Kennedy, profesor sejarah Harvard, yang melihat televisi sebagai salah satu penyumbang penting budaya trivial(remeh-temeh) yang menggerogoti posisi Amerika sebagai adikuasa dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita di luar Amerika, misalnya, kini menyaksikan betapa berbahayanya petualangan yang dilakukan Presiden Geroge W. Bush: bagaimana dia berbohong tentang Irak, dan bagaimana dia menggunakan pajak rakyat untuk menggenjot pesta-pora industri militer.Tapi, apakah mayoritas publik Amerika sebenarnya tahu apa yang dilakukan presidennya di pojok dunia lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, pada saat yang sama kita di Indonesia sedang meniru kerusakan serupa, bahkan dengan laju lebih cepat. Dan kita memang terutama ahli dalam meniru hal-hal buruk dari Amerika, seraya mengabaikan warisan positif peradaban Amerika yang sebenarnya bisakita manfaatkan untuk mengejar ketertinggalan di berbagai bidang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, Parto dan Nicky mungkin layak beroleh simpati. Tapi, dalam renungan lebih jauh, hal yang potensial paling merusak sebenarnya bukanlah perilaku brutal wartawan infotainment, tapi format infotainment itu sendiri yang diagungkan sebagai nyawa industri media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, dengan egoismenya yang melambung, media tak hanya sedang mengkhianati publik yang memberi mereka fasilitas umum seperti lisensi untuk frekuensi radioatau televisi. Media bahkan sedang menafikan basis eksistensinya sendiri, yakni kepentingan publik,sebuah alasan kenapa media diberi jimat sapujagat" kebebasan berekspresi".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-115603482243578400?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/115603482243578400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=115603482243578400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115603482243578400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115603482243578400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2006/08/infotainment-rabun-jauh-industri-media.html' title='Infotainment: Rabun Jauh Industri Media'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-115603413512168573</id><published>2006-08-19T17:29:00.000-07:00</published><updated>2007-11-29T03:48:02.498-08:00</updated><title type='text'>Indonesias Mas Media Role to Reducing Poverty</title><content type='html'>Indonesia in fact, has many potential to become a great and wealth country. However, the government of The Republik Indonesia faced many problems to reach their goals, and the biggest one is poverty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nowadays, poverty has become a world issues. So that’s not only become Indonesia problem, but also the world problem. Some seminars and workshop was held by various world organizations, in various countries regarding this poverty issues. Many countries doing some more, with creating some action and agenda with given aid and support to attacking poverty. In Indonesia itself, the government has launched Indonesian Year of Financial Micro (Tahun Keuangan Mikro Indonesia), on Februari 26th 2005. This government’s program was aim to attacking poverty, creating more job opportunity in Indonesia, and also to increase the wealthy of people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The government realized, this program could be successful with strengthen the Small Medium Enterprises (SME). In the same way, the government has asked to national banking industries and financial services to provide a financial support to the SMEs business in Indonesia. Hopefully with this program, could be reducing poor communities and creating some new successful SMEs business in this country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the other hand, to reducing poverty, mass media in Indonesia has a significant and critical role in the enabling the environment of business. Mass media, should be creating many attractive program and action i.e. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;First, giving a guidance and direction for poor society to get information about business environment and capital access. &lt;/strong&gt;In this case, the media should make some program to bridging them to capital access, or banking loan and credit facilities. So they can create business based on the capital provide by banking and financial services. Some media like Swa Magazine and Koran Tempo, has create program on this. Swa with Enterprise50 (cooperation between SWA, Accenture and PT UKM Indonesia), give an award to 50 successful entrepreneurs. Koran Tempo, more specially focus to lower SME’s supporting by Sampoerna has to do the same with given Djie Sam Soe Award. Unfortunately, these two programs not followed by some follow up program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Second, providing channel information about successful stories of some SMEs business in a various area&lt;/strong&gt;. Hopefully, this way can attract many SMEs to do the same thing, to make their business more existence and sustainable. The action on this, with creating a rubrication on some media, like SMEs corner who provide some successful SME stories.&lt;br /&gt;Informed, that many product of SME can be accepted in the market if they have a good quality standards, and continuity supply. Media can cooperate with government institution like Department of Trade or Department of Industry give a direction to the SMEs, how to create a good quality product.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Third, Ensure the stakeholder of SMSs the benefit of joining group or business association to give them opportunity &lt;/strong&gt;to find a business knowledge, joining and follow an interactive discussion about their business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, on the basic, the journalist should have a passion about writing some positive article concerning poverty. To achieve this, some NGOs related with this field, should given an opportunity to take some journalist of various media to see the reality. Take them to some poor communities and rural environment, created some workshop on poverty; give them information of some program has done, to reducing it. So, the journalist has a background to publish their article regarding on it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-115603413512168573?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/115603413512168573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=115603413512168573' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115603413512168573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115603413512168573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2006/08/indonesian-mas-media-role-to-reducing.html' title='Indonesias Mas Media Role to Reducing Poverty'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-115588940628487137</id><published>2006-08-18T01:18:00.000-07:00</published><updated>2006-08-18T01:23:26.296-07:00</updated><title type='text'>KUSnet dan Semangat Melestarikan Ke-Sunda-an</title><content type='html'>KUSnet dan Semangat Melestarikan Ke-Sunda-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Sunda adalah salah satu kelompok masyarakat dengan keunikan tersendiri. Jika ditilik dari sejarahnya, masyarakat Sunda sudah menjadi salah satu suku yang telah ada di persada Nusantara. Kehadirannya bisa direpresentasikan dari kenyataan jumlahnya saat ini telah mencapai 30 juta jiwa. Mereka sebagian besar tersebar di Propinsi Jawa Barat dan Banten. Tak sedikit juga diantara mereka yang merantau ke berbagai pelosok negeri hingga ke berbagai tempat di dunia. Boleh jadi, di saat pengaruh global demikian dominan menderas merasuki ranah kehidupun melalui beragam media, cetak maupun elektronik, yang membuat akar kesundaan mereka tercerabut. Beruntung, masih ada sekelompok masyarakat yang peduli pada persoalaan kesundaan bergabung di internet untuk menjadi pelestari beragam khasanah tentang Sunda dan segala pernak perniknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ismail Rahman, warga Kuningan, yang bekerja di Jakarta sebagai salah seorang praktisi di bidang teknologi Informasi.  Ismail memelopori keberadaan Komunitas Urang Sunda di Internet (Kusnet) dengan membuat milis tentang urang sunda di internet pada 8 Mei 2000. Dalam pengatar di milis itu, Ismail menulis Milis sebagai sarana untuk melestarikan beragam khasanah Sunda. Nama Milis itu, urangsunda@yahoogroups.com. Singkatan KUSnet diambil dari tulisan di pengatar milis yang kemudian terdengar selaras dengan nafas dan nama Sunda. Jadilah KUSnet yang merupakan wadah komunkasi masyarakat Sunda di internet. Peminat  milis ini pada awalnya cuma 23 orang. Kini lima tahun kemudian, hampir 200 orang tercatat sebagai anggota, dan sekitar 250 orang secara aktif mengirim postingan mereka setiap harinya.Untuk memoderasinya, enam orang warga dengan sukarela menjadi moderator. Mereka datang dari dari berbagai kalangan profesi. Sejak dosen, pensiunan karyawan BUMN, pegawai swasta, hingga pewirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari milis, namun kiprah Kusnet boleh dibilang telah begitu sangat beragam. Di saat berbagai institusi resmi, masih menjadikan upaya pelestarian budaya sunda sebagai wacana, Kusnet telah melakukan beberapa langkah nyata. Beberapa proyek konservasi dan revitalisasi naskah-naskah Sunda telah dilakukan oleh komunitas ini. Katakanlah sejak Buku Rusdi jeung Misnem, yang didigitalisasi, hingga buku-buku lama berbahasa Sunda lainnya. Seorang warganya yang bermukim di Jerman melakukan komputerisasi hurup-hurup asli Sunda, membuat website, dan mendokumentasi beragam dokumen tentang khasanah kesundaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusnet juga telah berpartispasi dalam Kongres Basa Sunda ke VIII yang digelar pada Bulan April lalu di Subang. Pada kongres ini, salah seorang moderatornya, Mamat Sasmita yang lebih dikenal sebagai Ua Sasmita menyajikan makalah yang turut menyemarakan suasana Kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being Digital&lt;br /&gt;John Negroponte dalam bukunya Beeing Digital (2000) menulis kecenderungan internet telah menjadi sebuah jalan tol dimana beragam kepentingan bisa disalurkan. Lewat internet pula, keinginan untuk melestarikan khasanah kesundaan mendapat tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, mungkin berawal dari keinginan untuk terus mempertahankan eksistensi Sunda di tengah pesatnya arus globalisasi. Pilihan untuk menjaga agar para penerus dan generasi muda Sunda tidak pareumeun obor, boleh jadi merupakan sesuatu yang diidealkan.  diawang-awang. Namun upaya yang dilakukan Kusnet telah awang-awang itu menjadi seuatu yang membumi, yang riil yang bisa dinikmati. Kultur dan kehidupan para warganya boleh saja berbeda-beda. Warganya ada yang bekerja sebagai staf PBB di New York, menjadi mahasiswa di sebuah Universitas di Jerman, menjadi tenaga kerja Indonesia di Abu Dhabi, TNI yang bertugas di Sierra Leone, tapi Internet telah memupus kendala itu. Mereka tetap dapat menjadi urang sunda dan menikmati ke-sunda-an mereka. Menjadikan mereka dekat, dan menjadikan kesundaan mereka sebagai bagian dari keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keinginan sekolompok warga masyarakat Sunda ini tidak perlu dilihat sebagai upaya untuk menyombongkan diri, menjadikan suku Sunda sebagai suku yang superior. Ada banyak milis komunitas serupa di internet dan mereka juga telah menjalankan peran nyata untuk katifitas kesukuan mereka. Namun begitulah,  urang Sunda akan tetap dikenal karena  typikal khas mereka yang peramah, menikmati hidup, taat pada agama, serta senang berkumpul untuk heureuy, dan ngabanyol (bergurau). Menurut Ua Sas, heureuy urang Sunda tidak pernah dalam konteks menyakiti orang lain namun lebih, pada upaya menertawakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagaimana umumnya aktifitas yang bisa dilakukan komunitas milis, hubungan itu akan selalu cair, demokratis, dan tentu saja tak bisa mengakomodasi keinginan seluruh anggotanya. Sebandungnya (bosen Yogya melulu), akan lebih baik jika KUSnet memainkan peran yang lebih dominan dalam aktifitas yang lebih riil selain mengupakan upaya pelestarian di bidang literer. Upaya yang telah dilakukan komunitas ini melalui Yayasan Parceka yang didirikan, dengan membangun perpustakaan di desa-desa terpencil sungguh patut diapresiasi. KUSnet dapat juga mengajak para inohong Sunda agar berperan lebih aktif dan memainkan peran yang lebih signifikan  di bidangnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puplasi orang Sunda memang cukup banyak. Namun yang peduli pada persoalan kesundaan reatif sedikit. Mereka yang berhimpun di KUSnet mungkin telah menjadi yang sedikit itu. Mereka telah berupaya dengan cara-cara mereka sendiri, menjaga agar kesundaan tetap eksis, tak hanya menjadi milik para sastrawan sunda, penggiat sunda, namun menjadi milik seluruh generasi. Mereka menjadikan internet sebagai medium yang pas untuk itu, mendekatkan jarak,  dan mampu menjadikan para warga Sunda di belahan dunia lain tetap dapat menyalurkan hasrat dan kerinduannya pada kesundaan, pada bahasa Sunda dan undak usuk bahasanya, pada masakan sunda, pada naskah-naskah sunda, pada seloroh (heureuy) Sunda, dan semesta kesundaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terimakasih untuk Ua Sasmita yang telah menyediakan bahan-bahan untuk penulisan artikel ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-115588940628487137?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/115588940628487137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=115588940628487137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115588940628487137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115588940628487137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2006/08/kusnet-dan-semangat-melestarikan-ke.html' title='KUSnet dan Semangat Melestarikan Ke-Sunda-an'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-115586065546949702</id><published>2006-08-17T17:20:00.000-07:00</published><updated>2007-11-29T03:51:52.534-08:00</updated><title type='text'>Teh Botol Sosro</title><content type='html'>Sudah lihat iklan teh botol sosro terbaru? Iklan ini bercerita tentang suasana belajar di kelas. Diceritakan, seorang guru pria pengajar bidang studi ilmu pengetahuan alam tengah menerangkan rantai makanan. Dijelaskan oleh sang guru ”Manusia makan ayam ...” tiba-tiba, seorang murid mengacungkan tangan dan bertanya. ”Setelah manusia makan ayam, minumnya apa, Pak”. Pak guru dengan malu-malu menjawab pelan, ”Teh botol Sosro ....”. Ini masih ditambah ekspresi Pak Guru yang &lt;em&gt;clegukan&lt;/em&gt;, menelan ludah sembari membayangkan nikmatnya minum teh botol Sosro. Di akhir cerita, Pak Guru tampak memperoleh kepuasan dengan meminum Teh Botol Sosro di depan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan yang mengelitik ini, terlepas dari adanya surat pembaca di sebuah harian yang menilai iklan tadi melecehkan profesi guru, sangat pas dan tepat menjelaskan posisi produk teh botol sosro. Ini sesuai tagline yang sengaja melekat yang sangat jeli dibuat oleh produsen minuman ini, yaitu ; ”Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro”. Serangkain iklan dengan berbagai tema, untuk mendukung tagline ini telah dibuat. Diantaranya, ekspresi orang yang kepedesan karena makan makanan, dan dahaganya terpuaskan seteleh minum teh botol sosro. Atau seorang ibu yang tengah curhat sama temannya dan mengaku sering makan ati. Temanya mungkin bisa miskomunikasi. Makan hati yang dimaksud si Ibu adalah kata-kata kiasan untuk menerangkan suasana hatinya yang galau. Teman curhatnya si Ibu, tanpa basa-basi langsung pergi, dan ketika kembali membawa teh botol sosro. Ketika Ibu yang curhat bengong karena tak mengerti, si ibu temannya langsung berkata, ”Kan tadi sudah makan hati,” Ibu curhat pun tersenyum dan langsung menikmati teh botol sosro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, karena mengenanya tagline ini. Beberapa orang kreatif mendesain gambar partai tulang belulang, dengan wajah Sumanto, -- pelaku kanibal yang pernah menghebohkan beberapa tahun lalu -- yang dibuat mirip dengan gambar/foto calon presiden. Dibawahnya terdapat tagline produk yang terkenal ini. Apapun makanannya .... minumnya teh botol sosro. Pamplet dan propaganda yang mengusung Sumanto ini beredar luas di internet. Cuma saya enggak tahu, apakah Sumanto dapat kompensisasi dari pemuatan iklan teh botol sosro tak resmi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kagak ada matinye.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Teh botol sosro yang diproduksi oleh PT Sinar Sosro ini memang kagak ada matinye. Kini, teh botol sosro boleh dibilang adalah market leader dalam minuman dalam botol di Indonesia. Bahkan jagoan minuman asal Amerika Coca-cola pun masih harus terus berjuang keras agar produk mereka bisa mengalahkan jagoan minuman lokal asal Ngawi ini. Coca Cola boleh jadi penguasa pasar minuman berkarbonasi dengan penguasaan pasar sebesar 50%. namun untuk minuman teh dalam botol, Sosro tetep jawara dengan menguasai 90% pasar. Coca Cola pernah berusaha lewat produk Hi C. Namun, kenyataannya gagal. Kini, Coca Cola tengah berusaha untuk merebut sedikit pasar minuman teh dalam botol yang masih dikuasai Sosro lewat produk Frestea. Produsen minuman lain seperti Pepsi juga pernah berusaha untuk menjegal Sosro. Lewat produk TeKita, Pepsi mencoba menggoyang dominasi Sosor. Namun apa daya, meski telah berjuang habis-habisan, TeKita gagal untuk menumbangkan Sosro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berspekulasi tentang rahasia sukses Grup usaha Sosrodjojo ini. O, ya. Sekarang mereka telah menjadi Grup usaha yang lini bisnisnya bersimaharajalela, sejak pemilikan hotel, produsen tissue, hingga properti. Namun bisnis utamanya, adalah menjual teh dalam botol. Kembali ke spekulasi rahasia sukses teh botol ini, beberapa diantara pakar bisnis sepakat, bahwa rahasia kejayaan Teh botol sosro ada pada rasanya yang pas di lidah dan tenggorokan orang Indonesia. Beberapa orang lain sepakat bahwa kekuatan bisnis Sosro juga terletak pada kekuatan distribusi dan marketingnya yang luar biasa. Namun tahukah Anda bahwa rahasianya, terletak pada kepemilikan Sosro atas botol-botol yang menjadi tempat minumannya? Betul Sodara, rahasianya sederhana saja ; Ada pada botol. Dengan kepemilikan botol yang luar biasa banyak jumlahnya, praktis Sosro menguasai ketersedian produknya di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, yang dijual Sosro kan sebenarnya hanyalah air teh. Bukan botolnya. Nah botolnya ini lah yang mengalami proses daur ulang sejak, proses pencucian dan pembersihan di pabrik, pengisian, didistribusikan hingga ke lapak-lapak kaki lima, dinikmati konsumen dan kemudian kembali lagi ke pabrik untuk menjalani proses dari awal dan begitu seterusnya. Nah, jumlah botol yang sudah teramat banyak dimiliki Sosro ini belum mampu ditandingi produsen minuman dalam botol lain. Rahasia ini diungkap seorang kerabat keluarga besar Sosrodjojo, kepada saya saat saya masih bekerja di sebuah majalah ekonomi dan bisnis beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran Sosro jelas seharum nama pendirinya yang mula-mula menjajakan air teh ini dalam sebuah wadah baskom besar, di pasar senen jakarta sekitar tahun 1970an. Dari wadah baskom ini, air teh produksi keluarga Sosro kemudian dimasukan kedalam plastik-plastik kecil, dan dijual kepada para pejalan kaki yang lewat di daerah itu. Siapa sangka strategi sederhana ini berbuah dahsyat dengan menjadikan Teh botol Sosro sebagai raja diraja minuman teh dalam botol di Indonesia. Mengutip majalah SWA no 10 Mei 2005, seorang pengamat dan praktisi pemasaran menaksir penjulan PT Sinar Sosro tahun 2004 adalah sebesar Rp 2 trilyun, dari 146 juta krat yang terjual. Jualan teh aja bisa sampai dua trilyun ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sosro memang enak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari volume bisnisnya yang kian menggurita, produk Teh botol Sosro patut diakui memang diterima masyarakat. Para penjual pun mengaku untung dengan menjual Sosro ketimbang produk lain. Dari sisi rasa, Teh botol Sosro terasa lebih pas di lidah ketimbang produk teh dalam botol lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman perempuan yang bekerja sebagai AE di sebuah majalah berita di Jakarta bisa menghabiskan lima teh botol sosro dalam sehari. Apalagi kalau kebetulan ia harus ke luar kantor karena urusan pekerjaan. Ia seperti mengharuskan diri untuk berhenti sejenak di pinggir jalan dan mencari penjual teh botol sosro. Ia mungkin peminum fanatik Teh Botol Sosro, karena jika disodori teh botol merek lain, kawan saya tadi lebih memilih meminum air putih. Sampai sebegitunya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri suka minum teh botol sosro. Waktu masih tinggal di Jakarta, saya menyimpan beberapa kerat di rumah sebagai persediaan. Awalnya sih untuk alasan kepraktisan saat menjamu tamu yang datang ke rumah, juga harganya lebih murah jika beli dalam kerat. Tapi karena tamu yang datang terbilang sedikit. Teh botol yang sekerat itu malah saya habiskan sendirian. Sekarang, anak saya yang masih berusia tiga tahun juga ikut-ikutan menjadi penikmat teh botol sosro. Ia seperti tahu, teh botol yang sering diminum ayahnya adalah minuman yang enak. Tapi karena tahu pengaruh minuman dalam botol yang tidak terlalu baik untuk kesehatan, apalagi anak-anak, saya kini membatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan promosi. Jadi nikmati saja, sembari minum ....Teh Botol Sosro.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-115586065546949702?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/115586065546949702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=115586065546949702' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115586065546949702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115586065546949702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2006/08/teh-botol-sosro.html' title='Teh Botol Sosro'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32811369.post-115586029865268865</id><published>2006-08-17T17:13:00.000-07:00</published><updated>2006-08-17T17:35:23.873-07:00</updated><title type='text'>Gurame</title><content type='html'>Ikan gurame (orphronemus gourami lac) merupakan ikan jenis air tawar yang berasal dari perairan rawa-rawa dan menyukai perairan yang tenang . Ikan ini juga bisa hidup di sungai atau danau. Budidaya ikan gurame, mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. disamping rasanya yang lezat dan empuk, ikan ini pun digemari banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping rasanya itu, perawatannya pun tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak biaya. Saat ini cukup banyak petani ikan yang telah membudidayakan ikan ini. Terlebih, harga dari setiap bibitnya yang murah dapat menghasilkan keuntungan 3 kali lipat. Harga ikan gurame di pasaran sangat bervariasi tergantung dari bobot ikan tersebut. Saat ini harga 1 kg Ikan gurame dengan berat masing-masing sebesar 500-600 gr mencapai kisaran Rp 20.000-Rp 25.000.- per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut TEMPO Interaktif, berdasarkan data dari Departemen kelautan dan perikanan (2003), setiap tahun, produksi ikan gurame mengalami peningkatan sekitar 35 persen. Ini karena semakin banyaknya petani ikan yang membudidayakan ikan jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan departemen kelautan dan perikanan tadi, produksi nasional gurame pada tahun 1999 sebesar 9.820 ton. Lalu pada tahun 2000 meningkat menjadi 14.065 ton. Pada tahun 2001 produksinya mencapai 19.027 ton. Pada tahun 2006, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menargetkan peningkatan sebanyak 3 kali lipat. Namun, kontribusi ikan gurame di sektor perikanan dalam negeri saat ini baru 10 persen. Seluruh produksi ini umumnya dikonsumsi di dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Tasikmalaya merupakan wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan Gurame di Jawa Barat. Khususnya di Kampung Babakan Loa, Desa Sukamahi kec. Indihiang, beberapa petani telah membudidayakan ikan ini meski dilakukan secara tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar usaha budidaya dan pemesaran ikan gurame ini berjalan optimal, maka dirasa perlu penanganan secara profesional dengan dukungan seluruh sumberdaya yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan gurame merupakan jenis ikan air tawar yang paling mahal harganya, namun permintaannya cukup tinggi. Permintaan gurame datang dari kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Karena mudahnya menjual ikan gurame, banyak orang yang menyetarakannya dengan emas, selain mudah dijual juga bernilai cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi pasar yang cukup prospektif tidak banyak orang yang menekuni usaha perikanan gurame secara profesional dan berorientasi komersial. Maka walaupun permintaannya cukup tinggi, penawaran ikan gurame masih dirasakan lamban. Akibatnya, sekalipun untuk memenuhi permintaan lokal dan regional, pasar ikan gurame masih terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fluktuasi harga ikan gurame relatif stabil dengan kecenderungan yang terus meningkat. Sebagai ilustrasi, harga ikan gurame saat ini di tingkat konsumen wilayah Tasikmalaya mencapai Rp.20.000 – Rp.25.000 per kg, sementara harga ikan yang berada satu peringkat di bawahnya yaitu ikan mas hanya Rp 9.000 paling tinggi Rp 12.500.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian wilayah pedataran Kabupaten Tasikmalaya memiliki sumber air permukaan maupun air tanah yang cukup sehingga menjadikan iklim yang kondusif untuk pengembangan budidaya ikan air tawar. Sentra budidaya ikan gurame di Kabupaten Tasikmalaya tersebar di beberapa kecamatan antara lain: Kecamatan Singaparna, Leuwisari, Padakembang, Sariwangi, Sukarame, Rajapolah, Manonjaya, Cisayong, Cigalontang. Kurang lebih 1.541,11 Ha kolam di wilayah tersebut potensial sebagai tempat usaha ikan gurame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas penguasaan lahan usahatani yang sempit berimplikasi pada efisiensi penyediaan sarana produksi dan pemasaran. Untuk mencapai efisiensi tersebut dapat dilakukan pendekatan kelompok kemitraan antara plasma dan inti.Inti merupakan pihak pengelola kelompok, dapat berupa perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa orang petani. Inti lebih difokuskan pada penyediaan sarana produksi termasuk bibit dan pemasaran. Sementara petani (plasma) bergerak pada tata laksana usahatani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, siapa lagi yang ingin beternak ikan gurame?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32811369-115586029865268865?l=myudiman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myudiman.blogspot.com/feeds/115586029865268865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32811369&amp;postID=115586029865268865' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115586029865268865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32811369/posts/default/115586029865268865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myudiman.blogspot.com/2006/08/gurame_17.html' title='Gurame'/><author><name>Maulana Yudiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17780899358469352932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_tUrDlBA_ZOQ/TNIMvXyA58I/AAAAAAAAACw/pif4RBxdAT4/S220/yudi_handuk12.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
